Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibukota. Cari Ibu Tiri Lain?

image

SUMMARY:

Jakarta memang menawarkan fasilitas terlengkap di Indonesia. Tapi lihat macetnya? Perilaku para pengendaranya? Kapan mau pindah dari Jakarta?

—-

Ini adalah pertama kalinya saya nge-post di atas bis umum, on my way to office. Hehehe.. Ya daripada suntuk parah ngeliatin mobil-mobil berjejeran tak bergerak di tol JORR.

Nah. Macet. I know that you might already get bored with it, tapi ini memang masalah Jakarta yang paling akut. Tapi di sini saya ga akan ngomongin tentang bagaimana sebaiknya pemerintah mengurangi kemacetan di Jakarta. Google it and you will find tons of articles talking about the same topic, most probably, over & over again.

I wanna talk about you..

Saya dulu sempat sangat keukeuh untuk tetap tinggal di Jakarta sampai mati. Namun, perkembangan tak terkontrol jauh lebih maju daripada usaha siapa pun untuk memperbaikinya. Kepikiran sih untuk pindah ke luar kota. Yang lebih less traffic, of course.

Buah pikiran saya adalah: sungguh sayang sekali waktu hidup dan berharga kita habis 80% di jalanan Jakarta yang penuh nan semrawut, dimana mungkin di ‘alternate world’ justru mungkin tidak pernah habis waktu untuk keluarga, teman, bisnis, rekreasi, berkegiatan sosial, you name it.

Bagaima dengan teman-teman? Punya pikiran sama dengan saya? Masih betah tinggal di Jakarta? Share dong.

[Talenta Digital di Indonesia]: Sebuah Saran

DigitalTalent3

Pagi ini baca artikel keren ini, yang intinya tentang hasil riset sebuah kantor konsultasi bahwa maraknya perkembangan digital communication di Indonesia tidak diimbangi dengan pertumbuhan para pemilik talentanya.

Saya mungkin termasuk salah satu generasi awal Internet Indonesia (KapanLagi.com: 2007 – 2009, Plasa.com: 2010 – 2011) yang memutuskan untuk terjun ke industri internet. Untungnya punya passion di Marketing Communication, jadi luckily cocok sama minat & pengalaman pribadi saya terhadap dunia teknologi.

Selain senang banget main-main di social media dan baca artikel-artikel yang berhubungan dengan perkembangan teknologi dunia – terutama buat Indonesia – , saya juga hobi kumpul-kumpul dengan teman-teman seprofesi. Di kalangan kami, tren para perusahaan besar mencari talenta digital itu sudah kelihatan dan sekarang mulai banyak. Saya termasuk salah satu korbannya :-D Dari Plasa.com, pindah ke Sinar Mas Land.

Waktu cerita ke teman-teman seprofesi bahwa saya akan pindah ke Sinar Mas Land, kebanyakan kaget dan nanya, “Ngapain, Bro? Khan ga ada hubungannya sama internet?” Ya pokoknya kalau dirangkum, inti respon dari mereka seperti itu.

Yes, saya keluar dari comfort zone saya. Kerja di internet company itu seru banget dan dinamis. Tiap hari kerjaannya ‘berantem’ untuk menemukan formulasi aktivitas marketing yang keren, tapi tetap tepat sasaran. Tentu saja begitu pindah ke korporat, semua itu berubah. Mungkin teman-teman yang juga merasakan sama seperti saya, tahu lah bedanya di mana. But, let me put it this way: sebagai pelaku industri internet, kita jangan stuck di lingkungan yang sama. Kenapa gitu?

Pertama, pola pikirnya harus To Educate. Masih banyak lho yang ga ngerti dan salah kaprah tentang berinternet, baik itu secara teknis, maupun perilaku, internal & eksternal. Nah, kalau memang teman-teman adalah praktisi digital Indonesia juga, ingat kalau kita juga bertanggung jawab terhadap kemajuan berinternet di Indonesia.

Yang kedua, To Challenge Yourself. Bisa kepikir ga perusahaan pengembang properti yang udah well-known akan aktivitas-aktivitas digitalnya? Saya belum. Di seluruh dunia saya coba ubeg-ubeg pun belum ada yang bisa dijadikanbenchmark. Jangan samakan dengan rumah123 dan rumah.com ya? Merekalisting. Ini beneran Property Developer, bukan Property Agent. Intinya, coba deh cari tantangan baru. Peras otak teman-teman. Jangan pernah berhenti bereksperimen. Mumpung ada perusahaan yang mau ngebayarin.

Yang terakhir, To Reward Your Friends. Bingung? Hehehe. Kita harus ingat kalau kita kaya sekarang itu bukan karena kita sendiri. Kita harus ingat sama teman-teman yang dulu berperan membuat kita semaju sekarang. Ini bukan soal uang. Tapi soal memperkenalkan lingkungan baru kita kepada persepsi yang berbeda mengenai dunia digital dan berinternet di Indonesia. Termasuk bikin aktivitas pemasaran kolaborasi ya.

Nah tambahan: Kalau soal gaji, kerja di korporat sebagai seorang specialisttentu saja punya perlakuan yang berbeda. Yup, value teman-teman akan jadi ++ (ga cuma pijet doang yang ++). Yang pinter ya negonya :-)

Ya begitulah sharing kecil saya (ga kecil-kecil juga sih. Panjang iya) tentang bagaimana saya ingin mengembangkan talenta saya. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan buat teman-teman yang baca juga.

——-

SUMMARY:

Saran saya: Belajar yang banyak dan bikin teman yang banyak. Tentukan tujuan hidup mau ke mana, karena pilihan karir teman-teman cukup menentukan bagaimana teman-teman ingin mencapai impian.

Apakah Bayi Anda Aman dari Social Media?

Terinspirasi oleh blog milik Ryan McLaughlin berjudul Removing My Children From The Internet, saya memiliki rasa penasaran yang cukup besar akan pendapat teman-teman terdekat saya mengenai posting foto-foto bayi (atau toddler) mereka di berbagai macam kanal situs jejaring sosial. Jadi, yang saya lakukan adalah langsung mengadakan FGD (Forum Group Discussion) kecil-kecilan melalui Path untuk mengetahui pendapat-pendipit mereka.

Beberapa pertanyaan yang saya ‘bombardir’ melalui fitur quote di Path adalah sebagai berikut:

  1. Sebahagia atau sebangga-banggnya kita akan bayi kita, apakah kita senantiasa memotret mereka dan men-twitpic, posting foto mereka di FB/Path/Instagram?
  2. Serajin itu kah kita merekam segala tingkah laku menggemaskan bayi kita dan mengunggahnya ke Youtube/Instagram/Vine?
  3. Pernahkah kita – (calon) orang tua) – berpikir bahwa mungkin bayi-bayi kita tidak ingin rekaman masa kecil mereka terpapar di internet, dimana setiap individu selalu memiliki kemungkinan untuk mengakses foto-foto dan/atau rekaman-rekaman video tersebut?
  4. Jika kita yang menjadi bayi kita, apa kita mau untuk diperlakukan dengan cara yang sama?

Reaksi yang saya dapatkan dari teman-teman saya lumayan variatif. Ada yang setuju untuk tidak memposting foto-foto anak-anak mereka, ada yang merasa tersadarkan dan – kelihatannya – akan mengurangi kegiatan posting foto anak, dan ada juga yang berpendapat bahwa ‘toh’ anak-anak kecil jaman sekarang sudah dengan sukarela menunjukkan foto masa bayi mereka kepada teman-temannya.

Tidak ada jawaban yang salah dan tidak ada jawaban yang benar. Justru menurut saya yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa lebih cermat dalam memilih kanal social media, dalam berbagi informasi. Isu social media selalu sama, yaitu ‘privacy’. Dan dengan makin menjamurnya pilihan-pilihan kanal social media – dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing – menjadikan privasi sebagai sebuah currency atau mata uang. Tentu saja bukan uang beneran ya, tapi lebih kepada “tingkat privasi yang bagaimana, di kanal social media yang mana?”. Karena, IMHO, pada saat bertambah besar, anak kita kelak akan memiliki hak untuk mengatur privasi mereka sendiri. Dan, mungkin, sebagai orang tua, kita bisa mulai memikirkan hal ini sejak dini; memberikan kesempatan anak kita untuk dapat mengatur kehidupan masa lalunya, untuk masa depan mereka.

Tambahan dari saya – ini lebih ke masalah teknis sih – dengan bertambah pesatnya kemajuan teknologi dan excitement masyarakat dunia akan hal tersebut, hukum 2.0, norma 2.0, tata krama 2.0, etika 2.0 belum bisa keep up. Dalam memaparkan identitas dan informasi kita di internet, hendaknya kita juga harus pintar. Kita tidak mau begitu saja memberikan informasi apa pun tentang kita ke orang asing. We never know what’s going to happen to us, our family, our children.

Thanks a lot untuk teman-teman kece saya yang sudah bersumbangsih pendapat di Path ya. You know who you are ;-)

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Apanya?

Teman-teman sekalian. Ingat tidak kalau hari ini adalah Hari Guru Nasional. Atau sudah sebagian besar lupa? Hehehe..Never mind. Di malam yang sudah terlalu larut untuk menulis ini, semoga saya bisa memberikan tulisan yang bermanfaat ya.

Kita dari kecil selalu ditanamkan tentang sosok guru sebagai pahlawan yang membuat kita pintar. Memberi ilmu tiada henti, walau – katanya – gaji tidak sebesar kalau bekerja sebagai karyawan kantoran. Itu waktu kita kecil. Nah, jika sekarang Anda sudah seumuran dengan saya (> 25 tahun), dengan segala hiruk pikuk sekitar dunia pendidikan yang Anda mungkin sudah pernah dengar atau sedang amati, apakah Anda mulai mempertanyakan jasa guru yang pernah diberikan kepada kita dahulu?

Kalau boleh jujur, saya amat sangat syukuri atas segala ilmu yang saya bisa dapatkan hingga saya boleh menjadi seseorang yang sekarang. Akan tetapi, melihat perkembangan – atau malah tidak berkembang sama sekali – dan gelagat sekolah-sekolah yang juga tidak hanya semakin bervariasi, namun juga semakin mahal, saya makin tergelitik dengan banyaknya pertanyaan di kepala saya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  • Berapa banyak guru yang merasa tanggung jawab mereka terhadap murid hanya dibatasi oleh gedung sekolah? Merasa bahwa di luar sekolah, murid-murid tersebut sudah tanggung jawab masing-masing orang tuanya.
  • Jika orang tuanya sendiri tidak cukup pintar untuk mendidik anaknya, apakah seorang guru akan melengos saja sambil berpikir bahwa itu bukan urusan mereka?
  • Apakah istilah ‘profesional’ dan ‘beretika’ itu cukup untuk membuat seorang guru biasa menjadi luar biasa? Tidakkah itu terdengar sangat ‘guru-oriented‘ daripada ‘murid-oriented?
  • Berapa banyak guru yang hampir tidak pernah punya waktu konsultasi pribadi bagi para muridnya pada saat mereka membutuhkan? Kesibukan seperti inikah yang dibanggakan?
  • Sekolah-sekolah memberikan beasiswa hanya kepada murid-murid yang terbukti mampu memenuhi standar, dengan dalih untuk memacu murid-murid lain yang ‘kurang’, untuk bisa memperbaiki nilai-nilai mereka di kelas. Apakah itu solusi bagi murid yang ‘kurang’ tersebut? Apakah mereka masih diberikan kesempatan untuk bisa mendapatkan beasiswa tapi guru-gurunya mengajar secara ‘adil & merata’ dan lupa bahwa masing-masing murid punya kemampuan belajar dan kepribadian yang berbeda?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan senada di kepala saya, namun saya rasa akan jadi sangat membosankan bagi teman-teman karena terlampau panjang.

Intinya, saya ingin mengajak teman-teman sekalian (syukur kalau di antara kalian ada yang guru) untuk berpikir dan berdiskusi lebih jauh tentang kata ‘guru’ dan tidak terbelenggu oleh bentuk-bentuk seperti gedung, status sosial, atau apapun itu yang membelenggu kedekatan antara guru dan murid.

Saya mau sharing tentang pengalaman saya sendiri dan saya akan sangat terbuka.

SMP saya termasuk SMP yang eksklusif dan populer, dimana uang sekolah tentu saja tidak murah dan buku yang dibawa bisa bikin badan susah tumbuh ke atas. Ilmu yang diberikan TOP! Gojlogan untuk menjadi individu yang fast learner & lulus EBTA/EBTANAS (sekarang UAS/UAN) juga tidak diragukan. Guru-gurunya pun mengajar dengan sangat baik. Pokoknya jaman saya SMP dulu itu hampir ga ada lah sekolah yang bisa lebih mewah. Semoga kegiatan ada di area sekolah, dengan fasilitas yang lengkap. OK, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa SMP saya memberikan saya gojlogan dalam hal kapasitas otak untuk belajar ilmu eksak, dll (ga tau deh mana yang otak kiri/kanan).

SMU saya, di Yogyakarta, termasuk sekolah yang amat sangat populer, tapi uang sekolah jauh di bawah uang sekolah saya di SMP. Bangunannya pun tidak semegah, secanggih, dan setinggi SMP saya. Boro-boro, wong langit-langit saja masih anyam-anyaman bambu dan ruang kelas tidak pakai pintu dan jendela. Pokoknya bentuk fisik kalah jauh lah dari SMP saya. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Hubungan murid dan guru itu luar biasa longgarnya. Kami belajar tentang rasa ‘hormat’ dengan format yang jauh berbeda yang kami tahu. Kami bisa tertawa terbahak-bahak sambil merangkul guru kami. Kami ditemani oleh guru kami untuk berkunjung ke rumah salah satu teman sekelas pada saat ada teman kami itu sedang bermasalah. Dan tanpa ba-bi-bu, guru kami segera mengerahkan segala macam bantuan yang bisa diberikan, termasuk berdebat dengan orang tua dari murid tersebut.

Saya tanya kepada teman-teman sekalian. Bisa lihat tidak perbedaannya? Cukup jelas tidak? Bagaimana perbedaan pengertian guru SMP dan SMU saya? Mana yang menurut kalian adalah benar-benar seorang guru? Dari cerita saya, saya yakin teman-teman sudah bisa melihat saya lebih berpihak kepada yang mana. Akan tetapi, saya tidak bersedia untuk membahas tentang pendapat pribadi saya. Saya minta teman-teman untuk sharing pengalaman kalian tentang ‘guru’ dan beri tahu saya apakah saya salah atau benar, menurut pandang kalian? Silahkan bantai saya ;-)

Sebagai penutup, saya ingin sekali menguti kultwit guru sosiologi SMU saya, Pak Sumar (@jsumardianta), tentang “Perangkap Beaya Tenggelam Pendidikan di Indonesia”. Semoga bisa menjadi pengetahuan dan bahan renungan.

#HariGuru1: Ada 4 tipe guru (mediocre, superior, good, & great teacher) yg berdampak destruktif maupun konstruktif bagi pendidikan di Ind.

#HariGuru2: “Sekolah di Indonesia didominasi guru mengajar bukan murid belajar. Soalnya, sebagian besar guru tipe medioker dan superior.”

#HariGuru3: “Masalah utama guru bkn sekadar kurikulum & stategi pengajaran.Bukan pula soal kesejahteraan melainkan spirit & keteladanan.”

#HariGuru4: Guru sdh banyak yg bersertifikat & beroleh tunjangan pendidik. Perubahan baru sebatas geser dr guru medioker jadi guru superior.

#HariGuru5: “Guru di Indonesia belum beranjak menjadi guru terpuji (good teacher) dan guru hebat (great teacher).”

#HariGuru6: “Pusat kegiatan mengajar-belajar guru medioker itu guru sendiri bukan murid. Kurikulum disajikan tanpa pengolahan. Pemelajaran tidak mempertimbangkan kecerdasan majemuk murid. Murid harus menyesuaikan dgn gaya mengajar guru. Bukan guru yang menyesuaikan metode mengajarnya dn gaya belajar murid. Guru medioker bercorak instruksional.Kerjanya hanya menyuapi murid spoon fiding). Murid dididik menjadi pecundang.”

#HariGuru7: “Guru superior, sepanjang hari, dari tahun ke tahun, kerjanya memperagakan otoritas & kewibawaan. Pusat kegiatan mengajar-belajar juga guru bukan murid. Guru tipe killer ini selalu minta diperhatikan bukan memperhatikan murid. Murid didik menjadi penakut & pengecut.”

#HariGuru8: “Guru superior cenderung minta dilayani. Ditakuti, bukan disegani murid, karena suka memaksakan selara. Guru temperamental yang selalu merasa paling benar. Bila nilai ujian jelek yg disalahkan muridnya. Ibarat ranting dan dahan lapuk guru superior hanya menunggu saat rontok.”

#HariGuru9: “Guru terpuji menjelaskan materi rumit dengan cara sederhana. To simplify complex things. Guru yang membuat murid ngeh & mudeng. Administrasi pengajarannya bagus. Pusat kegiatan mengajar-belajar masih tetap gurunya sendiri. Sayangnya guru tipe ini masih terperangkap materialisme kurikulum. Murid didik menjadi orang pintar.”

#HariGuru10: “Guru hebat kerjanya bukan sekadar mengajar melainkan sungguh mendidik. Guru hebat paham pekerjaan utamanya menginspirasi murid. Ia sadar punya satu mulut dan dua telinga. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik bukan membual terus di kelas sepanjang waktu. Guru hebat sedikit memberi instruksi.”

#HariGuru11: “Guru hebat Participant centered learning Pusat kegiatan mengajar-belajar murid bukan guru. Kurikulum diolah & disajikan sesuai kecerdasan majemuk murid. Guru hebat bisa mengidentifikasi gaya belajar murid di setiap kelas yang diampunya. dentifikasi gaya belajar murid membantu guru merancang pembelajaran kreatif & menyenangkan. Guru hebat mendidik murid menjadi manusia bermental driver & winner.”

#HariGuru12: “Guru hebat rendah hati. Gaya mengajarnya tdk usang. Metode mengajar model kemarin tak lagi digunakan buat mendidik murid masa kini. Tutorial teman sebaya (cooperative learning) salah satu bentuk PCL. Murid bergaya belajar cepat mengajar teman2 di kelasnya yang bergaya belajar normal dan lambat. Tutorial teman sebaya dilakukan guru hebat dengan memecah kelas menjadi kelompok2 kecil dipimpin murid bergaya belajar cepat. Tutorial teman sebaya  membuat pembelajaran di kelas menjadi hidup. Murid lebih suka diajar kawan2nya ketimbang gurunya karena tidak ada kesenjangan antargenerasi.”

(Kayanya Pak Sumar lupa kalau abis angka 12 itu kelanjutannya adalah 13 #dikeprukbakiak)

#HariGuru14: “Guru hebat memiliki keyakinan & komitmen kuat. Murid bisa melupakan apa-apa yg diajarkan maupun dilakukan gurunya. Tapi murid akan selalu mengingat & mengenang apa saja yang membuat hati mereka tersentuh.”

#HariGuru15: “Perubahan tidak menjamin keberhasilan tapi tidak ada keberhasilan yang bisa diraih tanpa perubahan. Tujuan guru bekerja menciptakan perubahan di sekolah. Perubahan tidak mungkin terjadi bila guru tidak memulainya dari diri sendiri terlebih dulu.”

#HariGuru16: “Guru medioker & superior yang cenderung destruktif disebut sunk cost. Beaya tenggelam (ongkos mahal) yang tidak bisa diambil kembali. Sekolah terperangkap sunk cost karena hanya bisa menyesali hilangnya beaya mahal akibat kesia-siaan guru yang membuat murid terbengkelai.”

#HariGuru17: “Kepala sekolah yg bukan tipe pengambil keputusan yg baik mudah terjebak sunk cost trap. Perangkap beaya mahal ini penyakit bagi pemimpin lemah dan pengambil keputusan buruk. Banyak kepala sekolah menghadapi guru bermasalah tapi sedikit yang berani membuat keputusan drastis yang membela dan peduli pada murid. Kepala sekolah yang keputusannya buruk bermental pecundang.”

#HariGuru18: “Guru medioker dan guru superior yang banyak merugikan murid bermental penumpang gelap yang sekedar cari aman dan menumpang hidup di sekolah.”

#HariGuru19: “Meminjam hukum Pareto, guru medioker dan superior jumlahnya 80%. Guru terpuji 15%. Guru hebat hanya 5%.”

(Lha ini abis no.19, eh no.19 lagi. Maklum ya, tweeps. Pak Sumar pasti sudah berumur juga secara saya terakhir ketemu beliau waktu kelas 3 SMU, sekitar tahun 2001 #dibalangpit)

#HariGuru19: “Masih jarang guru yang mau mengubah paradigma sehingga bermental driver (pengemudi), winner (bermental juara), good listener (pendengar yang baik). Kebanyakan guru bermental penumpang (passanger), pecundang loser), dan tukang bual (bad speaker).”

#HariGuru20: “Sedikit sekali guru yg memiliki tujuan hidup, bukan sekedar menumpang hidup, bukan sekedar mencari nafkah, dan bukan sekedar mencari kenyamanan. Guru yang berani mengatasi ketakutan, mengambil risiko, keluar dari zona nyaman, dan selalu menutut diri lebih. Guru yang berperilaku bikak bukan seenaknya sendiri. Guru yang dihargai karena menghargai muridnya. Guru bahagia yang mengantarkan kebahagiaan (delivering happiness) bagi para muridnya.”

#HariGuru21: sekian kulwit saya tentang “Perangkap Beaya Tenggelam Pendidikan” konsekaensi mayoritas guru medioker & superior.

P.S.: Pak Sumar ojo nesu yo, Pak. Mung arep sharing karo para kelonpencapir, Pak. Hwehehehe! Peace!

Cooptitive

Cooptitive

Cooptitive is a combination of two words: Cooperation & Competitive. In the future, brands that don’t educate its markets will most probably fail. In order to bring education in its most optimized scale, Brands should collaborate.

Apa itu Enterprise Social Networking (ESN)?

Siapa yang tidak tahu dua situs jejaring sosial, atau bahasa Jawa-nya “Social Network”, terkemuka di dunia? Pastilah jawabannya adalah Facebook & Twitter. Masih banyak lagi situs populer lainnya seperti Pinterest, Instagram, dan kawan-kawan. Tidak hanya hadir melalui situs di web, tetapi mereka juga melakukan ekspansi melalui Apps di smartphones. And please tell me, apakah Anda bisa melewatkan 1 hari saja tanpa mengecek situs/app jejaring sosial? Saya yakin tidak. Hehehe..

Thanks to social networking, sekarang komunikasi jarak jauh bukan merupakan kebutuhan mewah. Hampir di semua lini masyarakat dapat bersilaturahmi dengan keluarga dan teman, tanpa batas.

Alat Komunikasi di Kantor Pada Umumnya

OK. Masalah komunikasi dengan keluarga, sanak saudara, dan teman sekarang sudah bukan masalah karena amat sangat banyak sekali situs & apps yang mampu menawarkan fitur jejaring sosial. Namun, untuk urusan pekerjaan, bagaimana ya? Mari kita teliti bersama, digital tools apa saja sih yang kita gunakan dalam berkomunikasi dengan rekan-rekan kerja kita?

  • Electronic Mail (Email). Alat komunikasi ini dapat dikatakan sebagai alat digital yang paling populer untuk berkomunikasi, mengirim file, atau membuat jadwal pertemuan. Masih banyak perusahaan yang menggunakan servis Gmail dalam beroperasi, padahal idealnya adalah dengan menggunakan aplikasi email tersendiri, seperti Microsoft Outlook, IBM Lotus Notes, dan lainnya. Biasanya, yang menggunakan aplikasi email adalah perusahaan yang memiliki kebijakan tertentu terhadap kegiatan akses internet;
  • Intranet. Alat ini hampir tidak ada bedanya dengan portal informasi atau blog yang sering kita kunjungi, dimana isinya adalah informasi-informasi yang berhubungan dengan kegiatan bisnis dan kerja perusahaan. Intranet pada umumnya tidak trackable di Google dan bersifat rahasia (hanya untuk perusahaan yang bersangkutan saja). Intranet juga bisa digunakan sebagai tempat menyimpan form-form administrasi perusahaan, sehingga karyawan tidak perlu, secara fisik, mondar-mandir ke bagian – misalnya – HR, Finance, Legal, dll, jika hanya ingin mendapatkan dan mengisi dokumen tertentu. Alat ini, sebagian besar, bersifat one-way direction.
  • Office Chat. Karena dirasa email kurang real time dalam saling bertukar informasi atau berkonsultasi & intranet pun terlalu cluttered dengan berbagai macam informasi, layaknya chatting via Yahoo Messenger, tidak jarang perusahaan juga menggunakan fitur chat untuk mempercepat komunikasi antar rekan kerja, yang tentu saja memberikan dampak yang lebih cepat dan baik dalam pengambilan keputusan.

“Apakah bisa menggunakan situs-situs jejaring sosial ini untuk kepentingan pekerjaan? Misalnya Private Facebook Group untuk tim Anda sendiri. Apakah hal tersebut bisa & boleh untuk dilakukan?”

Bisa & boleh saja, tapi tidak saya rekomendasi. Kenapa? Karena informasi yang masuk ke dalam situs jejaring sosial dapat tertangkap oleh Google & bisa muncul di Google Search. Apabila yang Anda bagikan dan diskusikan di tim Anda adalah merupakan informasi rahasia perusahaan, tentu Anda tidak ingin rahasia perusahaan Anda dibaca oleh khalayak, media, apalagi kompetitor khan?

Enterprise Social Network (ESN)

Teknologi ini dibilang baru banget juga tidak, tapi setidaknya di Indonesia masih belum banyak mengadopsi. Informasi mengenai hal tersebut sudah saya surveikan secara kecil-kecilan di Twitter, dan teman-teman saya @reintweets & @widiasmoro jawab kalau ESN sudah dipake, salah satu contohnya adalah Djarum.

Saya sendiri cukup beruntung untuk bisa dapat akses mencicipi ESN milik VMWare, yaitu Socialcast

Setelah seminggu mencoba, Socialcast ini asik banget! Sebetulnya tidak secanggih situs jejaring sosial di luar sana, tapi at least untuk bisa bertukar informasi & berbagi dokumen-dokumen, yang tidak hanya berkatian dengan pekerjaan tapi juga bisa pengembangan diri, tool ini sangat user-friendly. Jargon-jargon yang digunakan juga sesuai dengan atmosfer bekerja (pada umumnya), seperti bila Anda mengklik ‘Thanks’, maka akan keluar pilihan bentuk terima kasih seperti apa yang mau Anda berikan.

Contoh:

Image

Di status update-nya pun, sama seperti Facebook, ada pilihan seperti: Status Update, Ask a Questions (langsung ada option Poll-nya), Send a File, dan Send Thanks. Apabila kita memiliki kewenangan sebagai Administrator, kita bisa membuat direktori grup tertentu, misalnya: Grup Corporate Communication atau disesuaikan dengan akan dijalankannya sebuah proyek (Project-Based).

Walau yang join belum cukup banyak, karena ini sifatnya masih Free (limited invitations), saya merasakan manfaat yang diberikan oleh ESN dalam bertukar informasi dan dokumen, kegiatan tanya jawab, dll, menjadi sangat menyenangkan, mudah, terbuka, & (hopefully) cepat. Tentu saja ESN tidak diadakan untuk mengganti internal tools yang sudah ada (email, intranet, chat), namun melengkapi. Dengan begitu, karyawan, yang juga stakeholders, bisa memilih channel yang paling nyaman jika mereka ingin berinteraksi. Toh rumusnya Happy Employees -> Happy Customers -> Happy CEO. Right? :-)

Selain Socialcast, sudah ada beberapa ESN yang cukup OK, seperti Yammer (yang dibeli oleh Microsoft pada bulan juni 2012), Zyncro, dan lainnya.

Jadi rekan-rekan, terutama rekan-rekan praktisi Social Media, Human Capital/Resources, & Internal Communication, are you up for the new toy/challenge? ;-)

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat & terima kasih.

Gereja: Tempat Kumpul-kumpul atau Institusi?

Image

Sudah cukup lama saya ingin membahas soal ini, sampai-sampai saya beli buku tentang Manajemen Strategi Gereja. Sayangnya, belum sempat saya baca. Hehehe..

Mungkin seharusnya saya baca buku tersebut dulu sampai habis, baru saya nge-blog. Akan tetapi, kok saya ngerasa lebih baik saya blog dulu supaya saya terbebas dari cara pandang buku tersebut. Mumpung saya masih bisa menempatkan diri sebagai salah satu anggota jemaat yang kebetulan mempunyai pengetahuan tentang manajemen strategi – walau belum jago-jago amat sih.

Pertanyaan terbesar saya selama ini adalah gereja sebagai sebuah tempat pelayanan, dimana komisi-komisi kecil tersebut dibentuk untuk menyasar target-target tertentu (sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa, dll), apakah perlu untuk dikembangkan?

Pertanyaan selanjutnya, mau dikembangkan menjadi apa? Perencanaannya bagaimana? Dan apakah langkah-langkah yang diambil untuk dapat mengembangkan sebuah gereja akan bentrok dengan norma-norma yang sudah lama ada di jemaatnya?

Tidak usah jauh-jauh, tentu obyek riset saya adalah gereja saya sendiri dan beberapa gereja teman-teman saya. Dan jangan dikira mudah, karena yang ingin saya ungkap adalah sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Bukan jemaatnya, bukan besar/kecilnya bangunan gereja, bukan para majelisnya, tapi bukti intangible tentang bagaimana gereja tersebut beroperasi, pesan-pesan yang beredar, hingga kegiatan pengambilan keputusan.

Atas Dasar Pelayanan

Ya, betul. Setahu saya, beda dengan profesi pendeta dan koster gereja, peran dalam kemajelisan sebuah gereja itu tidak dibayar. Semua dilakukan atas dasar pelayanan untuk Tuhan. Para majelis dan ketua komisi belum tentu dipilih berdasarkan kapabilitas atau talenta mereka, namun karena kesediaan mereka untuk melayani gerejanya. Bisa jadi – paling parahnya – adalah ketika sudah tidak ada orang lagi untuk bisa dimintakan tolong untuk menjadi pelayan Tuhan. Makanya tidak sedikit kita lihat para majelis di sebuah gereja yang dari tahun ke tahun itu-itu saja. Yaa..karena memang kekurangan SDM dan belum ada regenerasi.

Tidak adanya regenerasi bisa terlihat juga dari kegiatan gereja yang statis. Tidak tercermin kreativitas, tidak ada tantangan, dan tidak ada antusiasme. Nah apakah sebuah gereja boleh dicap seperti itu?

“Ya tidak bisa dong. Itu khan pelayanan. Tidak boleh dinilai seperti itu.”

Apakah Anda setuju dengan ungkapan barusan? Jika iya, Anda butuh berdiskusi banyak dengan generasi-generasi yang lebih muda dari Anda. Jika tidak, mari kita bahas lebih lanjut..

Gereja sebagai Institusi

Tanpa kita sadari, sebetulnya gereja itu sudah menjadi sebuah institusi. Seberapa konvesionalnya sebuah gereja, pada saat di dalam tubuhnya terbagi-bagi ke dalam beberapa komisi, itu sudah bisa diartikan bahwa gereja sebagai sebuah institusi/korporasi/organisasi.

Kenapa bisa begitu?

Karena di dalam kemajelisan, sudah ada pembagian kerja seperti Seksi Persekutuan, Pelawatan, Sekretariat, dll. Selain itu, untuk pemberitaan injil yang optimal, komisi-komisi di gereja juga dibagi-bagi menurut tingkat kedewasaan, seperti Komisi Anak (Sekolah Minggu), Remaja, Dewasa, Lansia, dll. Hanya saja, bedanya dengan organisasi atau perusahaan tempat Anda bekerja, gereja tidak memiliki SOP (Standard Operating Procedure), Reward & Punishment System, KPI (Key Performance Indicator), Measurement, dll. In a nutshell, gereja tidak memiliki Strategic Plan. Apabila alat-alat tersebut diaplikasikan di dalam sebuah gereja, maka dinilai akan dapat menghilangkan unsur ‘pelayanan’, yang – disinyalir – Tuhan kehendaki.

IMHO..

Kalau boleh saya analisa, kita butuh keduanya. Tuhan memberikan berkah yang membedakan kita dari makhluk lain, yaitu akal budi. Bila saya bilang bahwa gereja memerlukan alat-alat pengukuran perencanaan strategis, bukan berarti saya tidak beriman – well, saya serahkan kepada Anda yang menilai. Saya memiliki keyakinan bahwa, tidak hanya agama Kristen, tapi semua agama bertujuan untuk men-develop umat-umatnya untuk lebih bisa memahami segala macam berkat yang sudah diberikan oleh Tuhan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dunia. Tidakkah Anda setuju dengan saya?

(Click to Enlarge)

American Tringular Organizational Business Model

Mungkin selama ini gereja sudah memiliki Visi dan Misi; mau jadi apa dan menjadikan jemaatnya seperti apa. Nah, lalu apa yang harus dilakukan untuk dapat mencapai visi dan misi tersebut? Di situlah letak perencanaan strategisnya. Kalau sudah tahu apa yang mau dilakukan, bagaimana kita dapat menyediakan ruang untuk pembelajaran dan pengembangan. Sederhana saja. Gunakan alat-alat analisa yang sudah saya sebutkan di atas. Saya jamin para pemimpin gereja akan lebih mempunyai gambaran yang jelas dan fokus di dalam proses menuju visi dan misi.

Gereja perlu mengganti mindset ‘yang-penting-ada’ untuk posisi-posisi penting di kemajelisan, bahkan sampai dengan komisi. Secara objektif pilih orang yang memiliki potensial untuk posisi tersebut.

“Tapi khan kita jadi tidak memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin aktif melayani di gereja. itu artinya kita menutup kesempatan bagi orang lain!”

Apa iya? Bisa kita juga lho kita buat development program. Jemaat kita berikan kesempatan untuk ikut dalam seminar, workshop, dan lainnya demi perkembangan diri mereka, yang saya rasa juga bisa berguna untuk pekerjaan dan kehidupan berorganisasi mereka.

Sekali lagi saya tekankan, saya sama sekali tidak ada keinginan untuk menjelek-jelekkan gereja. Saya merasa sebuah berkah yang luar biasa bagi saya untuk bisa berbagi suka dan duka dengan jemaat-jemaat di gereja saya. Tapi kita juga perlu sadari bahwa jaman telah berubah dan ajaran-ajaran Yesus yang berupa perumpamaan adalah merupakan hal-hal yang tidak habis dimakan jaman dan senantiasa applicable untuk menghadapi segala macam badai perubahan.

Pilihannya ada di kita; apakah kita mau tetap berpegang pada tradisi kuno gereja atau bersedia berputar otak sedikit untuk membuat ajaran-ajaran Tuhan applicable di jaman dan generasi yang senantiasa berubah ini.

Saya mohon maaf bila ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan Anda. Mohon sadari bahwa setiap opini boleh berbeda dan interpretasi kita pun bisa variatif. Semoga tulisan ini boleh menjadi berkat. Amin.

God bless you..

——————————————————————————————————

UPDATE

——————————————————————————————————

Komentar Pak Albert Wanasida* mengenai post** saya:

@WidyDee: 1)Gereja itu organisme, jd hrs bertumbuh. Nilai tetap tp bungkus bisa berubah. Prsh or gereja sama2 kumpulan org. Change or die!

@WidyDee 2) Gereja itu khan tubuh Kristus, many parts in 1 body. Sdh banyak gereja pake SHAPE, tools menempatkan org sesuai fungsi/talenta.

@WidyDee 3) klo gitu para majelisnya kudu ikut seminar geraja sehat, dan ada tools tuk mengaudit kesehatan gereja & strategi bertumbuhnya.

*Bapak Albert Wanasida adalah seorang HR Senior Consultant di Uniex Consulting. Selain itu, beliau juga mengajar di PPM School of Management.

**Source: twitter.com

HR Senior Consultant

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,607 other followers