Reblogged from GigaOM:

Click to visit the original post

Google (s goog) is doing a second round of spring cleaning -- its euphemism for small projects it finds unworthy of its time and efforts -- and is killing off a whole bunch of projects, the biggest of them being Google Reader. In a blog post Wednesday afternoon, Urs Hölzle, Google's senior vice president of Technical Infrastructure, announced the pending closure:

Read more… 536 more words

Because of Google+?

Teman-teman sekalian. Ingat tidak kalau hari ini adalah Hari Guru Nasional. Atau sudah sebagian besar lupa? Hehehe..Never mind. Di malam yang sudah terlalu larut untuk menulis ini, semoga saya bisa memberikan tulisan yang bermanfaat ya.

Kita dari kecil selalu ditanamkan tentang sosok guru sebagai pahlawan yang membuat kita pintar. Memberi ilmu tiada henti, walau – katanya – gaji tidak sebesar kalau bekerja sebagai karyawan kantoran. Itu waktu kita kecil. Nah, jika sekarang Anda sudah seumuran dengan saya (> 25 tahun), dengan segala hiruk pikuk sekitar dunia pendidikan yang Anda mungkin sudah pernah dengar atau sedang amati, apakah Anda mulai mempertanyakan jasa guru yang pernah diberikan kepada kita dahulu?

Kalau boleh jujur, saya amat sangat syukuri atas segala ilmu yang saya bisa dapatkan hingga saya boleh menjadi seseorang yang sekarang. Akan tetapi, melihat perkembangan – atau malah tidak berkembang sama sekali – dan gelagat sekolah-sekolah yang juga tidak hanya semakin bervariasi, namun juga semakin mahal, saya makin tergelitik dengan banyaknya pertanyaan di kepala saya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  • Berapa banyak guru yang merasa tanggung jawab mereka terhadap murid hanya dibatasi oleh gedung sekolah? Merasa bahwa di luar sekolah, murid-murid tersebut sudah tanggung jawab masing-masing orang tuanya.
  • Jika orang tuanya sendiri tidak cukup pintar untuk mendidik anaknya, apakah seorang guru akan melengos saja sambil berpikir bahwa itu bukan urusan mereka?
  • Apakah istilah ‘profesional’ dan ‘beretika’ itu cukup untuk membuat seorang guru biasa menjadi luar biasa? Tidakkah itu terdengar sangat ‘guru-oriented‘ daripada ‘murid-oriented?
  • Berapa banyak guru yang hampir tidak pernah punya waktu konsultasi pribadi bagi para muridnya pada saat mereka membutuhkan? Kesibukan seperti inikah yang dibanggakan?
  • Sekolah-sekolah memberikan beasiswa hanya kepada murid-murid yang terbukti mampu memenuhi standar, dengan dalih untuk memacu murid-murid lain yang ‘kurang’, untuk bisa memperbaiki nilai-nilai mereka di kelas. Apakah itu solusi bagi murid yang ‘kurang’ tersebut? Apakah mereka masih diberikan kesempatan untuk bisa mendapatkan beasiswa tapi guru-gurunya mengajar secara ‘adil & merata’ dan lupa bahwa masing-masing murid punya kemampuan belajar dan kepribadian yang berbeda?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan senada di kepala saya, namun saya rasa akan jadi sangat membosankan bagi teman-teman karena terlampau panjang.

Intinya, saya ingin mengajak teman-teman sekalian (syukur kalau di antara kalian ada yang guru) untuk berpikir dan berdiskusi lebih jauh tentang kata ‘guru’ dan tidak terbelenggu oleh bentuk-bentuk seperti gedung, status sosial, atau apapun itu yang membelenggu kedekatan antara guru dan murid.

Saya mau sharing tentang pengalaman saya sendiri dan saya akan sangat terbuka.

SMP saya termasuk SMP yang eksklusif dan populer, dimana uang sekolah tentu saja tidak murah dan buku yang dibawa bisa bikin badan susah tumbuh ke atas. Ilmu yang diberikan TOP! Gojlogan untuk menjadi individu yang fast learner & lulus EBTA/EBTANAS (sekarang UAS/UAN) juga tidak diragukan. Guru-gurunya pun mengajar dengan sangat baik. Pokoknya jaman saya SMP dulu itu hampir ga ada lah sekolah yang bisa lebih mewah. Semoga kegiatan ada di area sekolah, dengan fasilitas yang lengkap. OK, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa SMP saya memberikan saya gojlogan dalam hal kapasitas otak untuk belajar ilmu eksak, dll (ga tau deh mana yang otak kiri/kanan).

SMU saya, di Yogyakarta, termasuk sekolah yang amat sangat populer, tapi uang sekolah jauh di bawah uang sekolah saya di SMP. Bangunannya pun tidak semegah, secanggih, dan setinggi SMP saya. Boro-boro, wong langit-langit saja masih anyam-anyaman bambu dan ruang kelas tidak pakai pintu dan jendela. Pokoknya bentuk fisik kalah jauh lah dari SMP saya. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Hubungan murid dan guru itu luar biasa longgarnya. Kami belajar tentang rasa ‘hormat’ dengan format yang jauh berbeda yang kami tahu. Kami bisa tertawa terbahak-bahak sambil merangkul guru kami. Kami ditemani oleh guru kami untuk berkunjung ke rumah salah satu teman sekelas pada saat ada teman kami itu sedang bermasalah. Dan tanpa ba-bi-bu, guru kami segera mengerahkan segala macam bantuan yang bisa diberikan, termasuk berdebat dengan orang tua dari murid tersebut.

Saya tanya kepada teman-teman sekalian. Bisa lihat tidak perbedaannya? Cukup jelas tidak? Bagaimana perbedaan pengertian guru SMP dan SMU saya? Mana yang menurut kalian adalah benar-benar seorang guru? Dari cerita saya, saya yakin teman-teman sudah bisa melihat saya lebih berpihak kepada yang mana. Akan tetapi, saya tidak bersedia untuk membahas tentang pendapat pribadi saya. Saya minta teman-teman untuk sharing pengalaman kalian tentang ‘guru’ dan beri tahu saya apakah saya salah atau benar, menurut pandang kalian? Silahkan bantai saya ;-)

Sebagai penutup, saya ingin sekali menguti kultwit guru sosiologi SMU saya, Pak Sumar (@jsumardianta), tentang “Perangkap Beaya Tenggelam Pendidikan di Indonesia”. Semoga bisa menjadi pengetahuan dan bahan renungan.

#HariGuru1: Ada 4 tipe guru (mediocre, superior, good, & great teacher) yg berdampak destruktif maupun konstruktif bagi pendidikan di Ind.

#HariGuru2: “Sekolah di Indonesia didominasi guru mengajar bukan murid belajar. Soalnya, sebagian besar guru tipe medioker dan superior.”

#HariGuru3: “Masalah utama guru bkn sekadar kurikulum & stategi pengajaran.Bukan pula soal kesejahteraan melainkan spirit & keteladanan.”

#HariGuru4: Guru sdh banyak yg bersertifikat & beroleh tunjangan pendidik. Perubahan baru sebatas geser dr guru medioker jadi guru superior.

#HariGuru5: “Guru di Indonesia belum beranjak menjadi guru terpuji (good teacher) dan guru hebat (great teacher).”

#HariGuru6: “Pusat kegiatan mengajar-belajar guru medioker itu guru sendiri bukan murid. Kurikulum disajikan tanpa pengolahan. Pemelajaran tidak mempertimbangkan kecerdasan majemuk murid. Murid harus menyesuaikan dgn gaya mengajar guru. Bukan guru yang menyesuaikan metode mengajarnya dn gaya belajar murid. Guru medioker bercorak instruksional.Kerjanya hanya menyuapi murid spoon fiding). Murid dididik menjadi pecundang.”

#HariGuru7: “Guru superior, sepanjang hari, dari tahun ke tahun, kerjanya memperagakan otoritas & kewibawaan. Pusat kegiatan mengajar-belajar juga guru bukan murid. Guru tipe killer ini selalu minta diperhatikan bukan memperhatikan murid. Murid didik menjadi penakut & pengecut.”

#HariGuru8: “Guru superior cenderung minta dilayani. Ditakuti, bukan disegani murid, karena suka memaksakan selara. Guru temperamental yang selalu merasa paling benar. Bila nilai ujian jelek yg disalahkan muridnya. Ibarat ranting dan dahan lapuk guru superior hanya menunggu saat rontok.”

#HariGuru9: “Guru terpuji menjelaskan materi rumit dengan cara sederhana. To simplify complex things. Guru yang membuat murid ngeh & mudeng. Administrasi pengajarannya bagus. Pusat kegiatan mengajar-belajar masih tetap gurunya sendiri. Sayangnya guru tipe ini masih terperangkap materialisme kurikulum. Murid didik menjadi orang pintar.”

#HariGuru10: “Guru hebat kerjanya bukan sekadar mengajar melainkan sungguh mendidik. Guru hebat paham pekerjaan utamanya menginspirasi murid. Ia sadar punya satu mulut dan dua telinga. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik bukan membual terus di kelas sepanjang waktu. Guru hebat sedikit memberi instruksi.”

#HariGuru11: “Guru hebat Participant centered learning Pusat kegiatan mengajar-belajar murid bukan guru. Kurikulum diolah & disajikan sesuai kecerdasan majemuk murid. Guru hebat bisa mengidentifikasi gaya belajar murid di setiap kelas yang diampunya. dentifikasi gaya belajar murid membantu guru merancang pembelajaran kreatif & menyenangkan. Guru hebat mendidik murid menjadi manusia bermental driver & winner.”

#HariGuru12: “Guru hebat rendah hati. Gaya mengajarnya tdk usang. Metode mengajar model kemarin tak lagi digunakan buat mendidik murid masa kini. Tutorial teman sebaya (cooperative learning) salah satu bentuk PCL. Murid bergaya belajar cepat mengajar teman2 di kelasnya yang bergaya belajar normal dan lambat. Tutorial teman sebaya dilakukan guru hebat dengan memecah kelas menjadi kelompok2 kecil dipimpin murid bergaya belajar cepat. Tutorial teman sebaya  membuat pembelajaran di kelas menjadi hidup. Murid lebih suka diajar kawan2nya ketimbang gurunya karena tidak ada kesenjangan antargenerasi.”

(Kayanya Pak Sumar lupa kalau abis angka 12 itu kelanjutannya adalah 13 #dikeprukbakiak)

#HariGuru14: “Guru hebat memiliki keyakinan & komitmen kuat. Murid bisa melupakan apa-apa yg diajarkan maupun dilakukan gurunya. Tapi murid akan selalu mengingat & mengenang apa saja yang membuat hati mereka tersentuh.”

#HariGuru15: “Perubahan tidak menjamin keberhasilan tapi tidak ada keberhasilan yang bisa diraih tanpa perubahan. Tujuan guru bekerja menciptakan perubahan di sekolah. Perubahan tidak mungkin terjadi bila guru tidak memulainya dari diri sendiri terlebih dulu.”

#HariGuru16: “Guru medioker & superior yang cenderung destruktif disebut sunk cost. Beaya tenggelam (ongkos mahal) yang tidak bisa diambil kembali. Sekolah terperangkap sunk cost karena hanya bisa menyesali hilangnya beaya mahal akibat kesia-siaan guru yang membuat murid terbengkelai.”

#HariGuru17: “Kepala sekolah yg bukan tipe pengambil keputusan yg baik mudah terjebak sunk cost trap. Perangkap beaya mahal ini penyakit bagi pemimpin lemah dan pengambil keputusan buruk. Banyak kepala sekolah menghadapi guru bermasalah tapi sedikit yang berani membuat keputusan drastis yang membela dan peduli pada murid. Kepala sekolah yang keputusannya buruk bermental pecundang.”

#HariGuru18: “Guru medioker dan guru superior yang banyak merugikan murid bermental penumpang gelap yang sekedar cari aman dan menumpang hidup di sekolah.”

#HariGuru19: “Meminjam hukum Pareto, guru medioker dan superior jumlahnya 80%. Guru terpuji 15%. Guru hebat hanya 5%.”

(Lha ini abis no.19, eh no.19 lagi. Maklum ya, tweeps. Pak Sumar pasti sudah berumur juga secara saya terakhir ketemu beliau waktu kelas 3 SMU, sekitar tahun 2001 #dibalangpit)

#HariGuru19: “Masih jarang guru yang mau mengubah paradigma sehingga bermental driver (pengemudi), winner (bermental juara), good listener (pendengar yang baik). Kebanyakan guru bermental penumpang (passanger), pecundang loser), dan tukang bual (bad speaker).”

#HariGuru20: “Sedikit sekali guru yg memiliki tujuan hidup, bukan sekedar menumpang hidup, bukan sekedar mencari nafkah, dan bukan sekedar mencari kenyamanan. Guru yang berani mengatasi ketakutan, mengambil risiko, keluar dari zona nyaman, dan selalu menutut diri lebih. Guru yang berperilaku bikak bukan seenaknya sendiri. Guru yang dihargai karena menghargai muridnya. Guru bahagia yang mengantarkan kebahagiaan (delivering happiness) bagi para muridnya.”

#HariGuru21: sekian kulwit saya tentang “Perangkap Beaya Tenggelam Pendidikan” konsekaensi mayoritas guru medioker & superior.

P.S.: Pak Sumar ojo nesu yo, Pak. Mung arep sharing karo para kelonpencapir, Pak. Hwehehehe! Peace!

Cooptitive is a combination of two words: Cooperation & Competitive. In the future, brands that don't educate its markets will most probably fail. In order to bring education in its most optimized scale, Brands should collaborate.

Siapa yang tidak tahu dua situs jejaring sosial, atau bahasa Jawa-nya “Social Network”, terkemuka di dunia? Pastilah jawabannya adalah Facebook & Twitter. Masih banyak lagi situs populer lainnya seperti Pinterest, Instagram, dan kawan-kawan. Tidak hanya hadir melalui situs di web, tetapi mereka juga melakukan ekspansi melalui Apps di smartphones. And please tell me, apakah Anda bisa melewatkan 1 hari saja tanpa mengecek situs/app jejaring sosial? Saya yakin tidak. Hehehe..

Thanks to social networking, sekarang komunikasi jarak jauh bukan merupakan kebutuhan mewah. Hampir di semua lini masyarakat dapat bersilaturahmi dengan keluarga dan teman, tanpa batas.

Alat Komunikasi di Kantor Pada Umumnya

OK. Masalah komunikasi dengan keluarga, sanak saudara, dan teman sekarang sudah bukan masalah karena amat sangat banyak sekali situs & apps yang mampu menawarkan fitur jejaring sosial. Namun, untuk urusan pekerjaan, bagaimana ya? Mari kita teliti bersama, digital tools apa saja sih yang kita gunakan dalam berkomunikasi dengan rekan-rekan kerja kita?

  • Electronic Mail (Email). Alat komunikasi ini dapat dikatakan sebagai alat digital yang paling populer untuk berkomunikasi, mengirim file, atau membuat jadwal pertemuan. Masih banyak perusahaan yang menggunakan servis Gmail dalam beroperasi, padahal idealnya adalah dengan menggunakan aplikasi email tersendiri, seperti Microsoft Outlook, IBM Lotus Notes, dan lainnya. Biasanya, yang menggunakan aplikasi email adalah perusahaan yang memiliki kebijakan tertentu terhadap kegiatan akses internet;
  • Intranet. Alat ini hampir tidak ada bedanya dengan portal informasi atau blog yang sering kita kunjungi, dimana isinya adalah informasi-informasi yang berhubungan dengan kegiatan bisnis dan kerja perusahaan. Intranet pada umumnya tidak trackable di Google dan bersifat rahasia (hanya untuk perusahaan yang bersangkutan saja). Intranet juga bisa digunakan sebagai tempat menyimpan form-form administrasi perusahaan, sehingga karyawan tidak perlu, secara fisik, mondar-mandir ke bagian – misalnya – HR, Finance, Legal, dll, jika hanya ingin mendapatkan dan mengisi dokumen tertentu. Alat ini, sebagian besar, bersifat one-way direction.
  • Office Chat. Karena dirasa email kurang real time dalam saling bertukar informasi atau berkonsultasi & intranet pun terlalu cluttered dengan berbagai macam informasi, layaknya chatting via Yahoo Messenger, tidak jarang perusahaan juga menggunakan fitur chat untuk mempercepat komunikasi antar rekan kerja, yang tentu saja memberikan dampak yang lebih cepat dan baik dalam pengambilan keputusan.

“Apakah bisa menggunakan situs-situs jejaring sosial ini untuk kepentingan pekerjaan? Misalnya Private Facebook Group untuk tim Anda sendiri. Apakah hal tersebut bisa & boleh untuk dilakukan?”

Bisa & boleh saja, tapi tidak saya rekomendasi. Kenapa? Karena informasi yang masuk ke dalam situs jejaring sosial dapat tertangkap oleh Google & bisa muncul di Google Search. Apabila yang Anda bagikan dan diskusikan di tim Anda adalah merupakan informasi rahasia perusahaan, tentu Anda tidak ingin rahasia perusahaan Anda dibaca oleh khalayak, media, apalagi kompetitor khan?

Enterprise Social Network (ESN)

Teknologi ini dibilang baru banget juga tidak, tapi setidaknya di Indonesia masih belum banyak mengadopsi. Informasi mengenai hal tersebut sudah saya surveikan secara kecil-kecilan di Twitter, dan teman-teman saya @reintweets & @widiasmoro jawab kalau ESN sudah dipake, salah satu contohnya adalah Djarum.

Saya sendiri cukup beruntung untuk bisa dapat akses mencicipi ESN milik VMWare, yaitu Socialcast

Setelah seminggu mencoba, Socialcast ini asik banget! Sebetulnya tidak secanggih situs jejaring sosial di luar sana, tapi at least untuk bisa bertukar informasi & berbagi dokumen-dokumen, yang tidak hanya berkatian dengan pekerjaan tapi juga bisa pengembangan diri, tool ini sangat user-friendly. Jargon-jargon yang digunakan juga sesuai dengan atmosfer bekerja (pada umumnya), seperti bila Anda mengklik ‘Thanks’, maka akan keluar pilihan bentuk terima kasih seperti apa yang mau Anda berikan.

Contoh:

Image

Di status update-nya pun, sama seperti Facebook, ada pilihan seperti: Status Update, Ask a Questions (langsung ada option Poll-nya), Send a File, dan Send Thanks. Apabila kita memiliki kewenangan sebagai Administrator, kita bisa membuat direktori grup tertentu, misalnya: Grup Corporate Communication atau disesuaikan dengan akan dijalankannya sebuah proyek (Project-Based).

Walau yang join belum cukup banyak, karena ini sifatnya masih Free (limited invitations), saya merasakan manfaat yang diberikan oleh ESN dalam bertukar informasi dan dokumen, kegiatan tanya jawab, dll, menjadi sangat menyenangkan, mudah, terbuka, & (hopefully) cepat. Tentu saja ESN tidak diadakan untuk mengganti internal tools yang sudah ada (email, intranet, chat), namun melengkapi. Dengan begitu, karyawan, yang juga stakeholders, bisa memilih channel yang paling nyaman jika mereka ingin berinteraksi. Toh rumusnya Happy Employees -> Happy Customers -> Happy CEO. Right? :-)

Selain Socialcast, sudah ada beberapa ESN yang cukup OK, seperti Yammer (yang dibeli oleh Microsoft pada bulan juni 2012), Zyncro, dan lainnya.

Jadi rekan-rekan, terutama rekan-rekan praktisi Social Media, Human Capital/Resources, & Internal Communication, are you up for the new toy/challenge? ;-)

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat & terima kasih.

Image

Sudah cukup lama saya ingin membahas soal ini, sampai-sampai saya beli buku tentang Manajemen Strategi Gereja. Sayangnya, belum sempat saya baca. Hehehe..

Mungkin seharusnya saya baca buku tersebut dulu sampai habis, baru saya nge-blog. Akan tetapi, kok saya ngerasa lebih baik saya blog dulu supaya saya terbebas dari cara pandang buku tersebut. Mumpung saya masih bisa menempatkan diri sebagai salah satu anggota jemaat yang kebetulan mempunyai pengetahuan tentang manajemen strategi – walau belum jago-jago amat sih.

Pertanyaan terbesar saya selama ini adalah gereja sebagai sebuah tempat pelayanan, dimana komisi-komisi kecil tersebut dibentuk untuk menyasar target-target tertentu (sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa, dll), apakah perlu untuk dikembangkan?

Pertanyaan selanjutnya, mau dikembangkan menjadi apa? Perencanaannya bagaimana? Dan apakah langkah-langkah yang diambil untuk dapat mengembangkan sebuah gereja akan bentrok dengan norma-norma yang sudah lama ada di jemaatnya?

Tidak usah jauh-jauh, tentu obyek riset saya adalah gereja saya sendiri dan beberapa gereja teman-teman saya. Dan jangan dikira mudah, karena yang ingin saya ungkap adalah sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Bukan jemaatnya, bukan besar/kecilnya bangunan gereja, bukan para majelisnya, tapi bukti intangible tentang bagaimana gereja tersebut beroperasi, pesan-pesan yang beredar, hingga kegiatan pengambilan keputusan.

Atas Dasar Pelayanan

Ya, betul. Setahu saya, beda dengan profesi pendeta dan koster gereja, peran dalam kemajelisan sebuah gereja itu tidak dibayar. Semua dilakukan atas dasar pelayanan untuk Tuhan. Para majelis dan ketua komisi belum tentu dipilih berdasarkan kapabilitas atau talenta mereka, namun karena kesediaan mereka untuk melayani gerejanya. Bisa jadi – paling parahnya – adalah ketika sudah tidak ada orang lagi untuk bisa dimintakan tolong untuk menjadi pelayan Tuhan. Makanya tidak sedikit kita lihat para majelis di sebuah gereja yang dari tahun ke tahun itu-itu saja. Yaa..karena memang kekurangan SDM dan belum ada regenerasi.

Tidak adanya regenerasi bisa terlihat juga dari kegiatan gereja yang statis. Tidak tercermin kreativitas, tidak ada tantangan, dan tidak ada antusiasme. Nah apakah sebuah gereja boleh dicap seperti itu?

“Ya tidak bisa dong. Itu khan pelayanan. Tidak boleh dinilai seperti itu.”

Apakah Anda setuju dengan ungkapan barusan? Jika iya, Anda butuh berdiskusi banyak dengan generasi-generasi yang lebih muda dari Anda. Jika tidak, mari kita bahas lebih lanjut..

Gereja sebagai Institusi

Tanpa kita sadari, sebetulnya gereja itu sudah menjadi sebuah institusi. Seberapa konvesionalnya sebuah gereja, pada saat di dalam tubuhnya terbagi-bagi ke dalam beberapa komisi, itu sudah bisa diartikan bahwa gereja sebagai sebuah institusi/korporasi/organisasi.

Kenapa bisa begitu?

Karena di dalam kemajelisan, sudah ada pembagian kerja seperti Seksi Persekutuan, Pelawatan, Sekretariat, dll. Selain itu, untuk pemberitaan injil yang optimal, komisi-komisi di gereja juga dibagi-bagi menurut tingkat kedewasaan, seperti Komisi Anak (Sekolah Minggu), Remaja, Dewasa, Lansia, dll. Hanya saja, bedanya dengan organisasi atau perusahaan tempat Anda bekerja, gereja tidak memiliki SOP (Standard Operating Procedure), Reward & Punishment System, KPI (Key Performance Indicator), Measurement, dll. In a nutshell, gereja tidak memiliki Strategic Plan. Apabila alat-alat tersebut diaplikasikan di dalam sebuah gereja, maka dinilai akan dapat menghilangkan unsur ‘pelayanan’, yang – disinyalir – Tuhan kehendaki.

IMHO..

Kalau boleh saya analisa, kita butuh keduanya. Tuhan memberikan berkah yang membedakan kita dari makhluk lain, yaitu akal budi. Bila saya bilang bahwa gereja memerlukan alat-alat pengukuran perencanaan strategis, bukan berarti saya tidak beriman – well, saya serahkan kepada Anda yang menilai. Saya memiliki keyakinan bahwa, tidak hanya agama Kristen, tapi semua agama bertujuan untuk men-develop umat-umatnya untuk lebih bisa memahami segala macam berkat yang sudah diberikan oleh Tuhan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dunia. Tidakkah Anda setuju dengan saya?

(Click to Enlarge)

American Tringular Organizational Business Model

Mungkin selama ini gereja sudah memiliki Visi dan Misi; mau jadi apa dan menjadikan jemaatnya seperti apa. Nah, lalu apa yang harus dilakukan untuk dapat mencapai visi dan misi tersebut? Di situlah letak perencanaan strategisnya. Kalau sudah tahu apa yang mau dilakukan, bagaimana kita dapat menyediakan ruang untuk pembelajaran dan pengembangan. Sederhana saja. Gunakan alat-alat analisa yang sudah saya sebutkan di atas. Saya jamin para pemimpin gereja akan lebih mempunyai gambaran yang jelas dan fokus di dalam proses menuju visi dan misi.

Gereja perlu mengganti mindset ‘yang-penting-ada’ untuk posisi-posisi penting di kemajelisan, bahkan sampai dengan komisi. Secara objektif pilih orang yang memiliki potensial untuk posisi tersebut.

“Tapi khan kita jadi tidak memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin aktif melayani di gereja. itu artinya kita menutup kesempatan bagi orang lain!”

Apa iya? Bisa kita juga lho kita buat development program. Jemaat kita berikan kesempatan untuk ikut dalam seminar, workshop, dan lainnya demi perkembangan diri mereka, yang saya rasa juga bisa berguna untuk pekerjaan dan kehidupan berorganisasi mereka.

Sekali lagi saya tekankan, saya sama sekali tidak ada keinginan untuk menjelek-jelekkan gereja. Saya merasa sebuah berkah yang luar biasa bagi saya untuk bisa berbagi suka dan duka dengan jemaat-jemaat di gereja saya. Tapi kita juga perlu sadari bahwa jaman telah berubah dan ajaran-ajaran Yesus yang berupa perumpamaan adalah merupakan hal-hal yang tidak habis dimakan jaman dan senantiasa applicable untuk menghadapi segala macam badai perubahan.

Pilihannya ada di kita; apakah kita mau tetap berpegang pada tradisi kuno gereja atau bersedia berputar otak sedikit untuk membuat ajaran-ajaran Tuhan applicable di jaman dan generasi yang senantiasa berubah ini.

Saya mohon maaf bila ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan Anda. Mohon sadari bahwa setiap opini boleh berbeda dan interpretasi kita pun bisa variatif. Semoga tulisan ini boleh menjadi berkat. Amin.

God bless you..

——————————————————————————————————

UPDATE

——————————————————————————————————

Komentar Pak Albert Wanasida* mengenai post** saya:

@WidyDee: 1)Gereja itu organisme, jd hrs bertumbuh. Nilai tetap tp bungkus bisa berubah. Prsh or gereja sama2 kumpulan org. Change or die!

@WidyDee 2) Gereja itu khan tubuh Kristus, many parts in 1 body. Sdh banyak gereja pake SHAPE, tools menempatkan org sesuai fungsi/talenta.

@WidyDee 3) klo gitu para majelisnya kudu ikut seminar geraja sehat, dan ada tools tuk mengaudit kesehatan gereja & strategi bertumbuhnya.

*Bapak Albert Wanasida adalah seorang HR Senior Consultant di Uniex Consulting. Selain itu, beliau juga mengajar di PPM School of Management.

**Source: twitter.com

HR Senior Consultant

Image

Pagi ini saya baca sebuah artikel di majalah Wired, edisi Juni 2012, yang sangat menarik, yaitu bagaimana dua orang Marketing di Facebook pada tahun 2010 menggunakan garasi kosong, untuk mendirikan sebuah art studio, bernama The Analog Research Lab. Nah lho! Apa hubungannya art studio ini dengan Facebook? Garasi yang sudah tidak terlalu kosong ini menjadi tempat dimana poster-poster berisi motivational quotes di-print dan ditempel di kubikel-kubikel kantor Facebook, bahkan salah satu poster bertuliskan “Stay Focused and Keep Shipping” tertempel di pintu kantor Mark Zuckerberg.

Image

The Analog Research Lab’s Poster on Mark’s Office Door

Tulisan-tulisan tersebut tentu saja bukan hanya sebagai penghias kantor, tetapi untuk mengingatkan para karyawan – bahkan para direksi Facebook – alasan mereka ada di Facebook dan penyemangat untuk bersama-sama memperbesar pengaruh Facebook kepada dunia. Lucu juga untuk tahu bahwa bahkan company sebesar dan secanggih Facebook dalam mengutilisasi teknologi, masih butuh printed media untuk mendukung mental para pekerjanya. Tidak hanya itu, sekarang para karyawan Facebook diperbolehkan dan dianjurkan untuk mem-propose kata-kata motivasi untuk bisa di-print oleh The Analog Research Lab dan dipajang di kantor Facebook.

Tidak hanya itu. Ada juga poster-poster yang bertuliskan “Move Fast & Break Things”, “Done is Better Than Perfect”, “What Would You Do If You Weren’t Afraid?”, “In Hack We Trust”, dan masih banyak lainnya.

Tapi cara satu-satunya untuk memberikan motivasi ke karyawan bukan hanya poster. Kantor Google di London menyediakan studio musik dan ruangan-ruangan bertema Sci-Fi untuk mendorong kreativitas para karyawannya, karena menurut mereka hal tersebutnya yang paling relevan dalam memberikan dukungan bisnis terhadap Google.

Image

Google’s London Office

Yang terakhir, Pixar Studio. Pada saat Pixar Studio dibangun, ada sebuah ruangan yang diperuntukkan untuk sistem air conditioningyang akhirnya dialih fungsikan menjadi sebuah ruangan rahasia, dengan nama “The Lucky 7 Lounge”. Kenapa dibilang rahasia? Karena The Lucky 7 Lounge ini juga bisa diakses dari sebuah rak buku yang bisa digeser, menggunakan tombol rahasia. Keren khan?!

Image

Pixar Studio’s The Lucky 7 Lounge

Bagaimana dengan kantor Anda? Apakah juga memiliki ornamen-ornamen yang diperuntukkan untuk refreshment bagi para karyawannya? Kalau ada, please do share. Kalau tidak ada, tidak harus menunggu dari management atau HRD. Buat saja sendiri! ;-)

Thanks for reading and see you on my next post.

“Disneyland, yang berada di Anaheim, California (28 mil dari Los Angeles), adalah taman rekreasi Disney yang pertama didirikan. Resmi dibuka pada tanggal 17 Juli 1955, Disneyland menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di seluruh dunia.” – Wikipedia.org

Sampai dengan saat ini, mungkin Anda berpikir sama dengan saya, bahwa Disneyland adalah taman hiburan terbaik di seluruh dunia. Impian Walt Disney yang begitu imjinatif dan inovatif akhirnya baru dapat berdiri setelah tokoh legendaris lintas generasi itu meninggal dunia, tetapi impiannya bersemayam di generasi-generasi sebelum dan sesudah kita. Walau persaingan dalam bisnis tersebut senantiasa terus menerus berkembang, but Disney is always there in everyone’s heart.

Saya sendiri baru sekali ke Disneyland, tepatnya yang di kota Paris, Perancis. Walaupun para pegawainya sangat susah sekali untuk diajak berbicara dalam bahasa Inggris – jadi harus pakai bahasa manusia gua – saya tetap bisa menikmati setiap petualangan saya di area-area yang berbeda. Ada Wild Wild West, Space Mountain, Imagination Institute, Agrabah, etc. Favorit saya adalah, pada saat Anda masuk ke area Disneyland pertama kali, Anda akan melihat banyak rumah berjejer di sebelah kanan dan kiri Anda, seolah-olah Anda sedang ada di dalam komplek perumahan Disney. Isi rumah-rumah tersebut adalah mini store, yang berjualan merchandise Disney.

Sebuah taman hiburan yang didesain sebegitu indahnya dan mampu untuk membuat saya merasa seolah-olah sedang tidak di dunia nyata. I will go there again, for I promised my wife to be her tour guide along the attractions :-)

OK. Sekarang kita bahas yang mau saya bagikan kepada Anda.

Disney selalu dikenal dengan inovasi-inovasinya yang magical, termasuk atraksi Disneyland ini. Namun, jaman sudah berubah. Revolusi industri digital memberikan lahan basah bagi para pencetus ide, inovator, kreator, businessmen, dan orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengeksploitasi serta mengaplikasikan kreativitas mereka. Tanpa Anda sadari, gaya hidup Anda sudah semakin dipermudah oleh perangkat-perangkat, baik keras maupun lunak, yang dikembangkan oleh para orang hebat tersebut. Industri theme park pun tidak ketinggalan.

Di Ilsan, Korea Selatan, sebuah taman hiburan digital dibuka sebagai sebuah event, karena hanya berlangsung dari tanggal 8 Desember 2011 lalu, sampai dengan 11 Maret 2012. Walaupun hanya sebentar, animo dari para pengunjung bisa saja menginspirasi para investor untuk membuat skala tamah rekreasi permanen. Event tersebut diselenggarakan oleh sebuah web agency global bernama D’strict, dengan memamerkan teknologi kreatif augmented reality mereka. Beberapa kecanggihan atraksi mereka, yang foto-fotonya saya ‘pinjam’ dari majalah Fast Company edisi bulan Mei 2012, adalah sebagai berikut:

Penjelasan gambar:

  1. Para pengunjung dapat mengendalikan dinamisme pencahayaan ruangan melalui kerasnya suara;
  2. Dengan melompat dari satu pijakan ke pijakan yang lain, para pengunjung memicu suara dan cahaya, serta bisa mendapatkan poin yang dicatat di gelang RFID (poin dapat ditukar dengan hadiah di jalan keluar wahana);
  3. Dengan luas hampir 500 kaki, wahana ‘Live Square’ ini dalah salah satu proyeksi interaktif di seluruh dunia. Pengunjung dapat memainkan games dan menjalankan misi-misi yang diberikan. Lagi, poin juga dapat diraih untuk ditukarkan dengan hadiah;
  4. Di ‘Smile Mural’, seorang pengunjung harus ‘nyengir’ untuk dapat membuat sebuah karya seni, yang kemudian dapat mengirimkan karya tersebut kepada temannya, dengan mengetik nomor telpon temannya, di layar tersebut;
  5. Para pengunjung dapat bergabung dengan para aktor & aktris di ‘Hologram Theater’, dimana para pengunjung dapat berinteraksi dan memanipulasi fantasi dalam bentuk hologram, yang diproyeksikan di sebuah layar biru besar.

Apakah menurut Anda taman rekreasi ini cukup keren? Menurut saya, iya. Tapi tiada bandingnya dengan Disneyland. Disneyland is still the best!

Tapi ada satu hal yang saya diambil dari sini, yaitu interactivity & share ability. Atraksi-atraksi Disneyland mungkin bisa dianggap kuno, jika dibandingkan dengan 4D Art Park tersebut. Tapi ability to share menurut saya dapat saja disajikan di Disneyland. Untuk apa? To share your magical moments to your family, friends, dll, yang tidak sedang bersama Anda di Disneyland PLUS dapat hadiah :-)

Contoh:

  1. Pada saat Anda masuk ke area Disneyland, instead of membawa karcis, Anda akan dipinjamkan gelang RFID, yang sudah tempelkan ID Facebook, Twitter, & Foursquare Anda;
  2. Tiap masuk wahana, Anda akan diminta untuk registrasi menggunakan gelang RFID Anda terlebih dahulu (simply menempelkan gelang RFID ke scanner yang sudah disediakan);
  3. Di layar akan keluar kursi yang harus Anda duduki, di kart wahana tersebut;
  4. Setelah keluar dari wahana, secara sederhana, Anda tinggal menempelkan gelang RFID Anda kembali di booth berbeda, yang kemudian akan mengenal Anda secara otomatis, berdasarkan nomor duduk Anda;
  5. Foto Anda siap untuk dibagikan ke Facebook atau Twitter atau keduanya, dan Anda pun diberi kesempatan untuk mengetikkan komentar/pesan.
  6. Untuk meningkatkan pengunjung wahana-wahana tersebut, gelang RFID dapat menyimpan poin-poin dalam jumlah tertentu, sesuai dengan tantangan yang diberikan di wahana tersebut;
  7. Poin dapat ditukar dengan merchandise Disneyland, atau gratis masuk 1 kali ke Disneyland Park yang sama.

Cukup menarik kah untuk Anda? Apakah memungkinkan untuk taman hiburan lokal seperti Dufan, Trans Studio World, Jatim Park menggunakan teknologi seperti itu?

Di Indonesia, sudah ada sebuah perusahaan komersil yang mampu melakukan hal-hal tersebut lho. Namanya Wooz.in. Jadi saya nge-blog ini itung-itung bantu promosi teman juga. Hahaha!

Tapi ini, jujur, bukan blog berbayar kok :-) Saya simply membagikan ide saya dan jika teknologinya sudah ada, yang ditampilkan dong ;-)

Sampai ketemu di tulisan saya berikutnya. Don’t be shy to leave any comment.

Thanks for reading!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.