My kind of music is not what most people are people listening to.

I don’t listen to trendy music not because I wanted to look like a part of minority & felt rebelliously cool about it.

I find my music unique & complicated. Maybe that’s how I want to be perceived by others.

I find indie pop, rock, or whatever they want to name the genre, can relate to my personality & life situation. The unusual music arrangements always carry me to the worlds I never visited & I like it.

I can never leave music out of my life. It’s the 2nd most important thing besides air that I want to breathe everyday. It keeps me going.

View on Path

Sesuai dengan janji saya kemarin, saya akan cerita pengalaman bermain air di wahana terbaru Sinar Mas Land, Go! Wet Waterpark, yang berlokasi di Grand Wisata.

Sekedar disclaimer aja sih. Saya share dari sisi konsumen ya.

Hujan yang tak kunjung henti tidak menghalangi niat saya, istri, & adik untuk memenuhi undangan ke Go! Wet (Ya iyalah. Undangannya cuma bisa buat hari ini doang). Kami lewat tol Cikampek dan keluar di Tambun. Dari signage sampai ke Go! Wet petunjuknya jelas sekali kok.

Begitu masuk ke area parkirnya, GEDE BANGET! Dari loket sampai masuk ke areanya, semua aman. Yang agak nyebelin sih pas di lokernya, karena dikasih jatah 1-2 koin (tergantung kapasitas loker) dan hanya bisa dikunci & dibuka sekali. Jadi pastikan sudah tahu barang apa saja yang harus dibawa selama di area Go! Wet. Soalnya kalau sampai lupa something di loker, mesti beli koinnya lagi.

Kami cobain semua slide. Ada yang bisa sendiri/berdua, ada yang HARUS bertiga. Ada yang cepet banget, bikin deg-degan, & ada yang meluncur santai. Ada 2 wahana slide-nya. Ga cuma yang di gambar kanan bawah.

Sebelum selesai, kami cobain juga kolam arus & kolam ombak. Ya gitu aja sih. Hehehe.

Pilihan makanan ga terlalu banyak, tapi cukup variatif.

Anak-anak pasti senang banget diajak ke sini. Orang tuanya juga, kalau masih punya inner child ūüėĄ Kalau udah ga ya stay aja di gazebonya sambil mainan tablet atau baca buku (by the way, gazebonya ga gratis).

We had fun & we recommend it.

Kalau butuh informasi lebih, silahkan ke http://www.gowet-grandwisata.com.

Thanks for reading. – at Go! Wet Waterpark

View on Path

Why You Should Consider Watching “Exodus: Gods & Kings”

Courtesy of Londoncitynights.com

Just watched ‘Exodus: Gods & Kings’ today with my wife, brother, mom, & dad. A very rare occasion indeed, since my parents are not into watching in cinema that much. I think they were willing to watch it simply because it’s a biblical story.

Although some friends think that this movie is boring as hell, and it does have the potential to be one, I like Ridley Scott’s approach on this one of very popular biblical stories.

I found two interesting points in this movie. One; how it is a bit less religious & more scientific/logic. Two; the relationsip between God & Moses.

I think RS and his team were trying to rationalize the godly events that happened in this story, however, without leaving God’s works in assisting Moses guiding Israelis out of Egypt. A very good job, by the way.

The display of God’s relationship with His disciple in this movie is quite different compared to previous biblical stories, where all the prophets were always agree on whatever God told them to do.

Moses is portrayed as a very strong-willed & courageous employee that often disagrees with his boss’s methods in dealing with things, because he finds them too ‘extreme’. However, he has the same desire of what to be expected as the outcomes.

On the other hand, God is pictured as a very strongheaded & persistent employer, but His only wish is to bring out the best of His employees.

I find this movie is providing us with a fresh point of view of what we already read & imagined through the Bible & Koran.

As we are all individuals with the freedom to interpret & imagine this particular story, what did you get after watching ‘Exodus: Gods & Kings’? Furthermore, to all my friends that haven’t watched this movie, I encourage you to. But just be patient & try not to fall asleep :-D

View on Path

Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibukota. Cari Ibu Tiri Lain?

image

SUMMARY:

Jakarta memang menawarkan fasilitas terlengkap di Indonesia. Tapi lihat macetnya? Perilaku para pengendaranya? Kapan mau pindah dari Jakarta?

—-

Ini adalah pertama kalinya saya nge-post di atas bis umum, on my way to office. Hehehe.. Ya daripada suntuk parah ngeliatin mobil-mobil berjejeran tak bergerak di tol JORR.

Nah. Macet. I know that you might already get bored with it, tapi ini memang masalah Jakarta yang paling akut. Tapi di sini saya ga akan ngomongin tentang bagaimana sebaiknya pemerintah mengurangi kemacetan di Jakarta. Google it and you will find tons of articles talking about the same topic, most probably, over & over again.

I wanna talk about you..

Saya dulu sempat sangat keukeuh untuk tetap tinggal di Jakarta sampai mati. Namun, perkembangan tak terkontrol jauh lebih maju daripada usaha siapa pun untuk memperbaikinya. Kepikiran sih untuk pindah ke luar kota. Yang lebih less traffic, of course.

Buah pikiran saya adalah: sungguh sayang sekali waktu hidup dan berharga kita habis 80% di jalanan Jakarta yang penuh nan semrawut, dimana mungkin di¬†‚Äėalternate world‚Äô¬†justru mungkin tidak pernah habis waktu untuk keluarga, teman, bisnis, rekreasi, berkegiatan sosial,¬†you name it.

Bagaima dengan teman-teman? Punya pikiran sama dengan saya? Masih betah tinggal di Jakarta? Share dong.

[Talenta Digital di Indonesia]: Sebuah Saran

DigitalTalent3

Pagi ini baca artikel keren ini, yang intinya tentang hasil riset sebuah kantor konsultasi bahwa maraknya perkembangan digital communication di Indonesia tidak diimbangi dengan pertumbuhan para pemilik talentanya.

Saya mungkin termasuk salah satu generasi awal Internet Indonesia (KapanLagi.com: 2007 Р2009, Plasa.com: 2010 Р2011) yang memutuskan untuk terjun ke industri internet. Untungnya punya passion di Marketing Communication, jadi luckily cocok sama minat & pengalaman pribadi saya terhadap dunia teknologi.

Selain senang banget main-main di social media dan baca artikel-artikel yang berhubungan dengan perkembangan teknologi dunia Рterutama buat Indonesia Р, saya juga hobi kumpul-kumpul dengan teman-teman seprofesi. Di kalangan kami, tren para perusahaan besar mencari talenta digital itu sudah kelihatan dan sekarang mulai banyak. Saya termasuk salah satu korbannya :-D Dari Plasa.com, pindah ke Sinar Mas Land.

Waktu cerita ke teman-teman seprofesi bahwa saya akan pindah ke Sinar Mas Land, kebanyakan kaget dan nanya,¬†“Ngapain, Bro? Khan ga ada hubungannya sama internet?”¬†Ya pokoknya kalau dirangkum, inti respon dari mereka seperti itu.

Yes, saya keluar dari¬†comfort zone¬†saya. Kerja di¬†internet company¬†itu seru banget dan dinamis. Tiap hari kerjaannya ‚Äėberantem‚Äô untuk menemukan formulasi aktivitas marketing yang keren, tapi tetap tepat sasaran. Tentu saja begitu pindah ke korporat, semua itu berubah. Mungkin teman-teman yang juga merasakan sama seperti saya, tahu lah bedanya di mana.¬†But, let me put it this way: sebagai pelaku industri internet, kita jangan¬†stuck¬†di lingkungan yang sama. Kenapa gitu?

Pertama, pola pikirnya harus To Educate. Masih banyak lho yang ga ngerti dan salah kaprah tentang berinternet, baik itu secara teknis, maupun perilaku, internal & eksternal. Nah, kalau memang teman-teman adalah praktisi digital Indonesia juga, ingat kalau kita juga bertanggung jawab terhadap kemajuan berinternet di Indonesia.

Yang kedua, To Challenge Yourself. Bisa kepikir ga perusahaan pengembang properti yang udah well-known akan aktivitas-aktivitas digitalnya? Saya belum. Di seluruh dunia saya coba ubeg-ubeg pun belum ada yang bisa dijadikanbenchmark. Jangan samakan dengan rumah123 dan rumah.com ya? Merekalisting. Ini beneran Property Developer, bukan Property Agent. Intinya, coba deh cari tantangan baru. Peras otak teman-teman. Jangan pernah berhenti bereksperimen. Mumpung ada perusahaan yang mau ngebayarin.

Yang terakhir, To Reward Your Friends. Bingung? Hehehe. Kita harus ingat kalau kita kaya sekarang itu bukan karena kita sendiri. Kita harus ingat sama teman-teman yang dulu berperan membuat kita semaju sekarang. Ini bukan soal uang. Tapi soal memperkenalkan lingkungan baru kita kepada persepsi yang berbeda mengenai dunia digital dan berinternet di Indonesia. Termasuk bikin aktivitas pemasaran kolaborasi ya.

Nah tambahan: Kalau soal gaji, kerja di korporat sebagai seorang specialisttentu saja punya perlakuan yang berbeda. Yup, value teman-teman akan jadi ++ (ga cuma pijet doang yang ++). Yang pinter ya negonya :-)

Ya begitulah sharing kecil saya (ga kecil-kecil juga sih. Panjang iya) tentang bagaimana saya ingin mengembangkan talenta saya. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan buat teman-teman yang baca juga.

‚ÄĒ‚ÄĒ-

SUMMARY:

Saran saya: Belajar yang banyak dan bikin teman yang banyak. Tentukan tujuan hidup mau ke mana, karena pilihan karir teman-teman cukup menentukan bagaimana teman-teman ingin mencapai impian.

Apakah Bayi Anda Aman dari Social Media?

Terinspirasi oleh blog milik Ryan McLaughlin berjudul Removing My Children From The Internet, saya memiliki rasa penasaran yang cukup besar akan pendapat teman-teman terdekat saya mengenai posting foto-foto bayi (atau toddler) mereka di berbagai macam kanal situs jejaring sosial. Jadi, yang saya lakukan adalah langsung mengadakan FGD (Forum Group Discussion) kecil-kecilan melalui Path untuk mengetahui pendapat-pendipit mereka.

Beberapa pertanyaan yang saya ‘bombardir’ melalui fitur quote di Path adalah sebagai berikut:

  1. Sebahagia atau sebangga-banggnya kita akan bayi kita, apakah kita senantiasa memotret mereka dan men-twitpic, posting foto mereka di FB/Path/Instagram?
  2. Serajin itu kah kita merekam segala tingkah laku menggemaskan bayi kita dan mengunggahnya ke Youtube/Instagram/Vine?
  3. Pernahkah kita – (calon) orang tua) – berpikir bahwa mungkin bayi-bayi kita tidak ingin rekaman masa kecil mereka terpapar di internet, dimana setiap individu selalu memiliki kemungkinan untuk mengakses foto-foto dan/atau rekaman-rekaman video tersebut?
  4. Jika kita yang menjadi bayi kita, apa kita mau untuk diperlakukan dengan cara yang sama?

Reaksi yang saya dapatkan dari teman-teman saya lumayan variatif. Ada yang setuju untuk tidak memposting foto-foto anak-anak mereka, ada yang merasa tersadarkan dan – kelihatannya – akan mengurangi kegiatan posting foto anak, dan ada juga yang berpendapat bahwa ‘toh’ anak-anak kecil jaman sekarang sudah dengan sukarela menunjukkan foto masa bayi mereka kepada teman-temannya.

Tidak ada jawaban yang salah dan tidak ada jawaban yang benar. Justru menurut saya yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa lebih cermat dalam memilih kanal social media, dalam berbagi informasi. Isu social media selalu sama, yaitu ‘privacy’. Dan dengan makin menjamurnya pilihan-pilihan kanal social media – dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing – menjadikan privasi sebagai sebuah currency atau mata uang. Tentu saja bukan uang beneran ya, tapi lebih kepada “tingkat privasi yang bagaimana, di kanal social media yang mana?”. Karena, IMHO, pada saat bertambah besar, anak kita kelak akan memiliki hak untuk mengatur privasi mereka sendiri. Dan, mungkin, sebagai orang tua, kita bisa mulai memikirkan hal ini sejak dini; memberikan kesempatan anak kita untuk dapat mengatur kehidupan masa lalunya, untuk masa depan mereka.

Tambahan dari saya – ini lebih ke masalah teknis sih – dengan bertambah pesatnya kemajuan teknologi dan excitement masyarakat dunia akan hal tersebut, hukum 2.0, norma 2.0, tata krama 2.0, etika 2.0 belum bisa keep up. Dalam memaparkan identitas dan informasi kita di internet, hendaknya kita juga harus pintar. Kita tidak mau begitu saja memberikan informasi apa pun tentang kita ke orang asing. We never know what’s going to happen to us, our family, our children.

Thanks a lot untuk teman-teman kece saya yang sudah bersumbangsih pendapat di Path ya. You know who you are ;-)

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Apanya?

Teman-teman sekalian. Ingat tidak kalau hari ini adalah Hari Guru Nasional. Atau sudah sebagian besar lupa? Hehehe..Never mind. Di malam yang sudah terlalu larut untuk menulis ini, semoga saya bisa memberikan tulisan yang bermanfaat ya.

Kita dari kecil selalu ditanamkan tentang sosok guru sebagai pahlawan yang membuat kita pintar. Memberi ilmu tiada henti, walau – katanya – gaji tidak sebesar kalau bekerja sebagai karyawan kantoran. Itu waktu kita kecil. Nah, jika sekarang Anda sudah seumuran dengan saya (> 25 tahun), dengan segala hiruk pikuk sekitar dunia pendidikan yang Anda mungkin sudah pernah dengar atau sedang amati, apakah Anda mulai mempertanyakan jasa guru yang pernah diberikan kepada kita dahulu?

Kalau boleh jujur, saya amat sangat syukuri atas segala ilmu yang saya bisa dapatkan hingga saya boleh menjadi seseorang yang sekarang. Akan tetapi, melihat perkembangan – atau malah tidak berkembang sama sekali – dan gelagat sekolah-sekolah yang juga tidak hanya semakin bervariasi, namun juga semakin mahal, saya makin tergelitik dengan banyaknya pertanyaan di kepala saya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  • Berapa banyak guru yang merasa tanggung jawab mereka terhadap murid hanya dibatasi oleh gedung sekolah? Merasa bahwa di luar sekolah, murid-murid tersebut sudah tanggung jawab masing-masing orang tuanya.
  • Jika orang tuanya sendiri tidak cukup pintar untuk mendidik anaknya, apakah seorang guru akan melengos saja sambil berpikir bahwa itu bukan urusan mereka?
  • Apakah istilah ‘profesional’ dan ‘beretika’ itu cukup untuk membuat seorang guru biasa menjadi luar biasa? Tidakkah itu terdengar sangat ‘guru-oriented‘ daripada ‘murid-oriented?
  • Berapa banyak guru yang hampir tidak pernah punya waktu konsultasi pribadi bagi para muridnya pada saat mereka membutuhkan? Kesibukan seperti inikah yang dibanggakan?
  • Sekolah-sekolah memberikan beasiswa hanya kepada murid-murid yang terbukti mampu memenuhi standar, dengan dalih untuk memacu murid-murid lain yang ‘kurang’, untuk bisa memperbaiki nilai-nilai mereka di kelas. Apakah itu solusi bagi murid yang ‘kurang’ tersebut? Apakah mereka masih diberikan kesempatan untuk bisa mendapatkan beasiswa tapi guru-gurunya mengajar secara ‘adil & merata’ dan lupa bahwa masing-masing murid punya kemampuan belajar dan kepribadian yang berbeda?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan senada di kepala saya, namun saya rasa akan jadi sangat membosankan bagi teman-teman karena terlampau panjang.

Intinya, saya ingin mengajak teman-teman sekalian (syukur kalau di antara kalian ada yang guru) untuk berpikir dan berdiskusi lebih jauh tentang kata ‘guru’ dan tidak terbelenggu oleh bentuk-bentuk seperti gedung, status sosial, atau apapun itu yang membelenggu kedekatan antara guru dan murid.

Saya mau sharing tentang pengalaman saya sendiri dan saya akan sangat terbuka.

SMP saya termasuk SMP yang eksklusif dan populer, dimana uang sekolah tentu saja tidak murah dan buku yang dibawa bisa bikin badan susah tumbuh ke atas. Ilmu yang diberikan TOP! Gojlogan untuk menjadi individu yang fast learner & lulus EBTA/EBTANAS (sekarang UAS/UAN) juga tidak diragukan. Guru-gurunya pun mengajar dengan sangat baik. Pokoknya jaman saya SMP dulu itu hampir ga ada lah sekolah yang bisa lebih mewah. Semoga kegiatan ada di area sekolah, dengan fasilitas yang lengkap. OK, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa SMP saya memberikan saya gojlogan dalam hal kapasitas otak untuk belajar ilmu eksak, dll (ga tau deh mana yang otak kiri/kanan).

SMU saya, di Yogyakarta, termasuk sekolah yang amat sangat populer, tapi uang sekolah jauh di bawah uang sekolah saya di SMP. Bangunannya pun tidak semegah, secanggih, dan setinggi SMP saya. Boro-boro, wong langit-langit saja masih anyam-anyaman bambu dan ruang kelas tidak pakai pintu dan jendela. Pokoknya bentuk fisik kalah jauh lah dari SMP saya. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Hubungan murid dan guru itu luar biasa longgarnya. Kami belajar tentang rasa ‘hormat’ dengan format yang jauh berbeda yang kami tahu. Kami bisa tertawa terbahak-bahak sambil merangkul guru kami. Kami ditemani oleh guru kami untuk berkunjung ke rumah salah satu teman sekelas pada saat ada teman kami itu sedang bermasalah. Dan tanpa ba-bi-bu, guru kami segera mengerahkan segala macam bantuan yang bisa diberikan, termasuk berdebat dengan orang tua dari murid tersebut.

Saya tanya kepada teman-teman sekalian. Bisa lihat tidak perbedaannya? Cukup jelas tidak? Bagaimana perbedaan pengertian guru SMP dan SMU saya? Mana yang menurut kalian adalah benar-benar seorang guru? Dari cerita saya, saya yakin teman-teman sudah bisa melihat saya lebih berpihak kepada yang mana. Akan tetapi, saya tidak bersedia untuk membahas tentang pendapat pribadi saya. Saya minta teman-teman untuk sharing pengalaman kalian tentang ‘guru’ dan beri tahu saya apakah saya salah atau benar, menurut pandang kalian? Silahkan bantai saya ;-)

Sebagai penutup, saya ingin sekali menguti kultwit guru sosiologi SMU saya, Pak Sumar (@jsumardianta), tentang “Perangkap Beaya Tenggelam Pendidikan di Indonesia”. Semoga bisa menjadi pengetahuan dan bahan renungan.

#HariGuru1: Ada 4 tipe guru (mediocre, superior, good, & great teacher) yg berdampak destruktif maupun konstruktif bagi pendidikan di Ind.

#HariGuru2: “Sekolah di Indonesia didominasi guru mengajar bukan murid belajar. Soalnya, sebagian besar guru tipe medioker dan superior.”

#HariGuru3: “Masalah utama guru bkn sekadar kurikulum & stategi pengajaran.Bukan pula soal kesejahteraan melainkan spirit & keteladanan.”

#HariGuru4: Guru sdh banyak yg bersertifikat & beroleh tunjangan pendidik. Perubahan baru sebatas geser dr guru medioker jadi guru superior.

#HariGuru5: “Guru di Indonesia belum beranjak menjadi guru terpuji (good teacher) dan guru hebat (great teacher).”

#HariGuru6: “Pusat kegiatan mengajar-belajar guru medioker itu guru sendiri bukan murid. Kurikulum disajikan tanpa pengolahan. Pemelajaran tidak mempertimbangkan kecerdasan majemuk murid. Murid harus menyesuaikan dgn gaya mengajar guru. Bukan guru yang menyesuaikan metode mengajarnya dn gaya belajar murid. Guru medioker bercorak instruksional.Kerjanya hanya menyuapi murid spoon fiding). Murid dididik menjadi pecundang.”

#HariGuru7: “Guru superior, sepanjang hari, dari tahun ke tahun, kerjanya memperagakan otoritas & kewibawaan. Pusat kegiatan mengajar-belajar juga guru bukan murid. Guru tipe killer ini selalu minta diperhatikan bukan memperhatikan murid. Murid didik menjadi penakut & pengecut.”

#HariGuru8: “Guru superior cenderung minta dilayani. Ditakuti, bukan disegani murid, karena suka memaksakan selara. Guru temperamental yang selalu merasa paling benar. Bila nilai ujian jelek yg disalahkan muridnya. Ibarat ranting dan dahan lapuk guru superior hanya menunggu saat rontok.”

#HariGuru9: “Guru terpuji menjelaskan materi rumit dengan cara sederhana. To simplify complex things. Guru yang membuat murid ngeh & mudeng. Administrasi pengajarannya bagus. Pusat kegiatan mengajar-belajar masih tetap gurunya sendiri. Sayangnya guru tipe ini masih terperangkap materialisme kurikulum. Murid didik menjadi orang pintar.”

#HariGuru10: “Guru hebat kerjanya bukan sekadar mengajar melainkan sungguh mendidik. Guru hebat paham pekerjaan utamanya menginspirasi murid. Ia sadar punya satu mulut dan dua telinga. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik bukan membual terus di kelas sepanjang waktu. Guru hebat sedikit memberi instruksi.”

#HariGuru11: “Guru hebat Participant centered learning Pusat kegiatan mengajar-belajar murid bukan guru. Kurikulum diolah & disajikan sesuai kecerdasan majemuk murid. Guru hebat bisa mengidentifikasi gaya belajar murid di setiap kelas yang diampunya. dentifikasi gaya belajar murid membantu guru merancang pembelajaran kreatif & menyenangkan. Guru hebat mendidik murid menjadi manusia bermental driver & winner.”

#HariGuru12: “Guru hebat rendah hati. Gaya mengajarnya tdk usang. Metode mengajar model kemarin tak lagi digunakan buat mendidik murid masa kini. Tutorial teman sebaya (cooperative learning) salah satu bentuk PCL. Murid bergaya belajar cepat mengajar teman2 di kelasnya yang bergaya belajar normal dan lambat. Tutorial teman sebaya dilakukan guru hebat dengan memecah kelas menjadi kelompok2 kecil dipimpin murid bergaya belajar cepat. Tutorial teman sebaya¬† membuat pembelajaran di kelas menjadi hidup. Murid lebih suka diajar kawan2nya ketimbang gurunya karena tidak ada kesenjangan antargenerasi.”

(Kayanya Pak Sumar lupa kalau abis angka 12 itu kelanjutannya adalah 13 #dikeprukbakiak)

#HariGuru14: “Guru hebat memiliki keyakinan & komitmen kuat. Murid bisa melupakan apa-apa yg diajarkan maupun dilakukan gurunya. Tapi murid akan selalu mengingat & mengenang apa saja yang membuat hati mereka tersentuh.”

#HariGuru15: “Perubahan tidak menjamin keberhasilan tapi tidak ada keberhasilan yang bisa diraih tanpa perubahan. Tujuan guru bekerja menciptakan perubahan di sekolah. Perubahan tidak mungkin terjadi bila guru tidak memulainya dari diri sendiri terlebih dulu.”

#HariGuru16: “Guru medioker & superior yang cenderung destruktif disebut sunk cost. Beaya tenggelam (ongkos mahal) yang tidak bisa diambil kembali. Sekolah terperangkap sunk cost karena hanya bisa menyesali hilangnya beaya mahal akibat kesia-siaan guru yang membuat murid terbengkelai.”

#HariGuru17: “Kepala sekolah yg bukan tipe pengambil keputusan yg baik mudah terjebak sunk cost trap. Perangkap beaya mahal ini penyakit bagi pemimpin lemah dan pengambil keputusan buruk. Banyak kepala sekolah menghadapi guru bermasalah tapi sedikit yang berani membuat keputusan drastis yang membela dan peduli pada murid. Kepala sekolah yang keputusannya buruk bermental pecundang.”

#HariGuru18: “Guru medioker dan guru superior yang banyak merugikan murid bermental penumpang gelap yang sekedar cari aman dan menumpang hidup di sekolah.”

#HariGuru19: “Meminjam hukum Pareto, guru medioker dan superior jumlahnya 80%. Guru terpuji 15%. Guru hebat hanya 5%.”

(Lha ini abis no.19, eh no.19 lagi. Maklum ya, tweeps. Pak Sumar pasti sudah berumur juga secara saya terakhir ketemu beliau waktu kelas 3 SMU, sekitar tahun 2001 #dibalangpit)

#HariGuru19: “Masih jarang guru yang mau mengubah paradigma sehingga bermental driver (pengemudi), winner (bermental juara), good listener (pendengar yang baik). Kebanyakan guru bermental penumpang (passanger), pecundang loser), dan tukang bual (bad speaker).”

#HariGuru20: “Sedikit sekali guru yg memiliki tujuan hidup, bukan sekedar menumpang hidup, bukan sekedar mencari nafkah, dan bukan sekedar mencari kenyamanan. Guru yang berani mengatasi ketakutan, mengambil risiko, keluar dari zona nyaman, dan selalu menutut diri lebih. Guru yang berperilaku bikak bukan seenaknya sendiri. Guru yang dihargai karena menghargai muridnya. Guru bahagia yang mengantarkan kebahagiaan (delivering happiness) bagi para muridnya.”

#HariGuru21: sekian kulwit saya tentang “Perangkap Beaya Tenggelam Pendidikan” konsekaensi mayoritas guru medioker & superior.

P.S.: Pak Sumar ojo nesu yo, Pak. Mung arep sharing karo para kelonpencapir, Pak. Hwehehehe! Peace!
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,608 other followers