Agama Baru: ‘Social Media’


Agama, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan atau Dewa, dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

Apa agama kalian? Kristen? Katolik? Islam? Hindu? Buddha? Kong Hu Cu?

—————————————————————————
Sebelum saya lanjutkan, santai saja ya bacanya, friends? :D It’s nothing serious, tapi sebuah kenyataan yang menggelitik🙂
—————————————————————————

Apakah teman-teman tahan untuk tidak cek Facebook, ‘curhat’ di Twitter/Koprol, dan/atau mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan badges di Foursquare 1 kali dalam sehari saja? Kalau memang tahan, selamat! Agama Anda cuma SATU!

Fenomena situs jejaring sosial di negara kita..wait..seluruh dunia, memang sangat luar biasa. Orang-orang mulai rela untuk tidak terlalu memusingkan bagaimana dan kapan mereka harus merencanakan perkumpulan ‘rumpi’ untuk bisa curhat atau hanya sekedar meng-update gosip terbaru di kalangan teman-teman terdekat. Akan tetapi, semakin kita belajar menggunakan dan membuka siapa diri kita sebenarnya di FB, Twitter, atau situs jejaring sosial lainnya, bisa saja mengubah perilaku kita.

Kepercayaan kita terhadap sesama anggota situs jejaring sosial membuat kita makin tergantung dalam berbagi (feel good) dan dibagikan (well-informed) informasi. Secara tidak langsung, kita seolah-olah ‘menyembah’ FB, Twitter, dan situs jejaring sosial sejenisnya. OK..OK..’menyembah’ mungkin sebuah kata yang terlalu kontroversial, but think again, my friends. Aren’t you?

Saya pribadi tidak melihat ada yang salah dengan menggantungkan kebutuhan informasi kita terhadap situs jejaring. Malahan, saya mendukung. Kita memiliki kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan pergaulan kita, sejauh tidak menyalahi kebenaran dalam etika berkenalan dan saling menghormati.

Sedikit mirip dengan agama, di mana agama bisa juga menjadi zen time untuk kita, sebagai sampingan dalam usaha kita mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta. Secara Anda tidak sadar, mungkin ‘curcol’ Anda atau kata-kata motivasi yang Anda bagikan dapat berpengaruh bagi seseorang di ujung dunia lain yang kebetulan sedang mencari jawaban dari pergumulannya. Betul khan? Mulai mendekati konsep agama dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang terlepas dari aspek ‘Tuhan’-nya? Secara tidak kita sadari, kita pun percaya dan yakin akan informasi yang diberikan di situs jejaring sosial.

Lalu bagaimana kalau kita dibohongi? Situs jejaring sosial juga membuka peluang bagi pengguna-penggunanya untuk saling memonitor. Dapat dilihat di posting saya mengenai ‘It’s Me 2.0’, bahwa pada saat ada oknum yang secara sengaja memberikan informasi yang bertentangan dengan norma-norma dan nilai-nilai kebenaran, maka secara cyber orang tersebut bisa saja diadili oleh teman-temannya atau pengikut-pengikutnya. Dari situ kita tahu bahwa orang tersebut tidak layak untuk dipercaya dalam hal berbagi informasi.

See, guys? Ada sistem reward dan ada juga punishment-nya. Situs jejaring sosial menjadi sesuatu yang kita kunjungi setiap hari untuk – tidak hanya berkomunikasi – menenangkan diri (baca: menghibur diri), menebar kasih dengan menyapa teman-teman kita lewat memberikancomment di status-status mereka, dan memuji mereka atas informasi berguna dan menginspirasi, yang mereka berikan kepada kita. Atau..teman-teman punya konsep berbeda soal agama? Atau social media? Bagikanlah dengan teman-teman Anda di sini.

Heaven or Hell? You choose😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s