Ngawur Main Foursquare


Setelah dilanda demam Twitter, sekarang Indonesia menemukan mainan baru. Yes, it’sFoursquare.

Kenapa bukan Koprol?
Koprol sudah dibahas di post sebelumnya.

Trus Gowalla engga?
Ternyata Gowalla belum sepopuler Foursquare, setidaknya di Indonesia, walau Gowalla memiliki sedikit kelebihan daripada Foursquare.

But anyway, kita akan membatasi diskusi ini sebatas Foursquare saja.

Sekedar mengingatkan, Foursquare adalah sebuah ‘perempatan’ antara menemukan teman, petunjuk tempat-tempat kunjungan (favorit atau tidak itu sangat relatif), dan sebuah permainan yang memberikan penghargaan kepada member-nya setiap berhasil memberikan informasi berharga bagi member-member lainnya (diterjemahkan dari Foursquare).

Jadi, Foursquare TIDAK menyediakan informasi tentang tempat-tempat, karena tidak mungkin untuk mengidentifikasi setiap lokasi di dunia. Mungkin baru yang sekitaran di Amerika Serikat saja. Tapi, justru ini adalah kekuatan Foursquare, karena member dengan bebas dapat menambahkan identitas lokasi-lokasi yang mereka kunjungi, yang – siapa tahu – suatu saat berguna bagi member yang lain. Setiap kita menambahkan informasi tempat baru, maka Foursquare akan memberikan poin yang apabila sudah terkumpul pada jumlah-jumlah tertentu, kita akan dihadiahi sebuah badge sebagai penghargaan atas achievement kita. Bahkan, dengan check-in saja kita diberi poin. Kalau kata Ibu Dara: ENAK KHAAN??!! Nah, keuntungan buat Foursquare adalah peningkatan database lokasi yang signifikan untuk menjadikan Foursquare lebih lengkap.

Eits! Ntar dulu. Yang diharapkan kita sebagai member Foursquare adalah kita juga memberikan tips-tips tentang lokasi-lokasi yang kita rekomendasikan (atau tidak merekomendasikan). Ada fitur ‘To-Do”, yaitu share kita terhadap Foursquare akan tempat yang ingin kita tuju. Lalu ada juga “Add Tips”, yaitu Tips yang kita berikan kepada teman-teman kita sesama member Foursquare, apabila mereka ingin mengunjungi tempat yang kita rekomendasikan.

Akan tetapi, sayang seribu sayang, tidak semua orang menggunakan fitur-fitur di Foursquare secara pantas. Saya menemukan tiga fenomena yang paling sering terjadi pada saat member-member beraktivitas lewat Foursquare. Ini yang sebetulnya menurut saya kategorikan sebagai “Main Foursquare Tidak Pada Tempatnya”.

———-
Remote Check-Ins
Apa sih itu? Remote Check-Ins merupakan kegiatan check-in di Foursquare yang dilakukan oleh member, tanpa – secara fisik – member berada di lokasi tersebut.
Ada yang salah? Ada! Karena member tersebut tidak menggunakan fasilitas Foursquare sebagaimana mestinya. Namanya aja check-in. Gimana sih kalau di Hotel atau di Bandar Udara? Kalau check-in, secara fisik orangnya harus ada di situ khan? Sedikit mengutip dariWikipedia.org, definisi Check-In adalah:

The process of announcing your arrival at a hotel, airport or sea port.

Ada unsur ‘konfirmasi’ di situ. Banyaknya check-in – di tingkat tertentu – menentukan jumlahbadge yang akan didapat oleh member.

Menambah Lokasi Seenaknya
Kalau masalah ini, masih dalam grey area. Kenapa gitu? Karena pengenalan dan kelengkapan informasi akan sebuah tempat oleh tiap-tiap member Foursquare berbeda. Tapi itu ga akan saya bahas deh.

Saya share pengalaman sedikit:
“Kemarin saya di La Piazza, Kelapa Gading. Saya ingin check-in di situ. Pada saat sayascrolling untuk memilih lokasi di mana saya berada, saya menemukan 5 lokasi dengan nama yang sama, namun dengan tingkat kelengkapan yang berbeda. Ada yang nulis alamat, ada yang..yaa..yang penting ada tulisan ‘La Piazza’-nya. Terus terang, saya sebagai user merasa sangat terganggu, karena saya sudah pernah check-in di lokasi yang sama dengan informasi yang memang dulu hanya ada satu nama La Piazza saja dan saya tidak mau check-in di ‘La Piazza’ lainnya karena menurut saya tidak halah dalam etika ber-sosial media (call me old-fashioned or whatever, I do not really care).”

Saya yakin ada beberapa orang yang berpandangan sama seperti saya, dalam hal menggunakan fitur-fitur social media. Untuk memberikan informasi lokasi baru di Foursquare, Foursquare memberikan poin yang cukup tinggi, yaitu ‘+5’. Nah..Apakah ada hubungannya dengan mendapatkan badges? Kita bahas di akhir saja.

Mengabaikan fitur ‘Add Tips’
Fitur ‘To-Do’ tidak saya bahas karena keinginan orang berbeda-beda dan kontribusinya terhadap Foursquare pun kurang signifikan, walau tetap fun untuk dipakai.
Beberapa lokasi – terutama di Indonesia – ada yang cukup ‘tersembunyi’, yang tidak mudah ditemukan pada saat sedang berkendaraan atau memang lokasinya cukup terpencil atau susah dijangkau. Karena itulah gunanya fitur ‘Add Tips’ di Foursquare. Fitur tersebut tidak terbatas hanya kepada menu apa yang direkomendasikan oleh member lain. Menurut saya, informasi navigasi terhadap lokasi yang dituju merupakan isu yang jauh lebih penting.

Seringkali kita lihat akun Foursquare teman kita yang isinya hanya check-in saja. Again, bukankah social media merupakan tempat untuk berbagi informasi? (And) again, apakah niatnya memang semata-mata hanya untuk mendapatkan badges? Masalah sempat atau tidak sempat, itu personal. Tidak ada yang bisa menilai. Saya hanya melihat kepada ‘niat’.
———-

Ada ga sih yang sama dari ketiga poin yang saya coba jabarkan di atas? Yes! It’s aboutFoursquare Badges. Tampaknya fitur reward ini pasti fun secara individual, tapi persepsi dari member yang lain bisa berbeda. Badges yang tadinya diperuntukkan sebagai sebuah perhargaan atas informasi yang diberikan, malah menjadi ajang koleksi tanpa memperhatikan kelengkapan informasi dan kegunaannya bagi sesama. Etika dalam menggunakan fitur social media bisa dibilang: telah dilanggar.

Apa hikmah yang dapat diambil dari fenomena ini?
Etika adalah sesuatu keyakinan yang belum tentu dipersepsikan sama oleh dua individu atau lebih. Akan tetapi, etika dipercaya sebagai sebuah value yang dipegang oleh kebanyakan orang dan secara tidak langsung, menuntut tiap-tiap individu untuk mematuhi dan menghormati etika tersebut. Contoh konkrit pelanggaran etika, salah satunya, adalah dikucilkan. Tentu tidak ada orang yang ingin dikucilkan khan?

Beretika di social media hampir tidak ada bedanya dengan kita menjunjung etika di kehidupan yang sebenarnya. Konsekuensinya pun mirip. Percayalah bahwa menjadi individu yang beretika dapat memberikan kotribusi positif yang besar bagi perkembangan batiniah diri sendiri dan sustainability dalam membangun relasi terhadap sesama.

Tulisan ini hanya buah pikiran saja dan saya menyambut bentuk-bentuk pembahasan dan/atau diskusi tentang topik ini. Teman-teman bebas memandang dan memperlakukan Foursquare sebagai apa pun yang kalian ingin pikirkan dan lakukan. Tidak akan masuk penjara kok😉

Thanks for your time, please feel free to drop any comment, and stay tune for the next exciting topic😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s