Kenapa Local App Bakalan Nge-Hits


Image

Saat saya sedang menghantar calon istri kembali ke apartemennya, secara tidak sengaja saya mendengar seorang satpam berbicara kepada temannya, “Gw mau jual hape gw nih. Mau beli Samsung Galaxy.” Saya tidak perhatikan orangnya, tapi apa yang dia katakan menimbulkan rasa penasaran saya tentang apakah sudah segitu memasyarakatnya Android. Lalu, saat saya sedang jalan kembali ke mobil, kelihatannya si satpam yang mau beli hape baru tadi melihat saya sedang ‘main jari’ dengan Android device saya. Dia mendekati saya dan bertanya, “Ini Samsung Galaxy yang mana, Mas? Saya juga mau beli.” – terkadang saat saya sedang menunggu nyonya, saya suka ngobrol dengan para satpam, jadi saling kenal – Lalu saya tunjukkan kepada dia bagaimana mengoperasikan Android di smartphone saya. Dengan antusias, dia bilang, “Wah! Gampang ye, Mas! Ane jadi beli ah. Ntar kalau ada apa-apa, ane tanya-tanya Mas ya?” Saya pamitan, masuk ke mobil, dan masih berpikir tentang kejadian tersebut.

—————————————————————————————————————————————-

Saya ingat ketika Nokia secara gencar mempromosikan Ovi Store-nya. Bilbor di mana-mana, tapi saya memang tidak sedang memantau performa fitur Nokia satu ini. “Dalam mempromosikan Ovi Store, Nokia melakukan pendekatan Grass Roots dengan mengunjungi universitas-universitas di Indonesia. Dan juga suka ngadain Local Developer Wars di Jogja, Solo, etc,” ujar Aria Rajasa, CEO Gantibaju.com, saat sedang whatsapp-an sama saya.

– The market is prepared –

Sekarang, kemudahan untuk mendapatkan, mengunduh, dan menginstal apps merupakan salah satu kriteria konsumen dalam membeli smartphones. Image Nokia memang tidak terlalu kuat di smartphone, karena fokus bisnisnya sempat shifting ke low-end phones, sejak infasi BlackBerry ke Indonesia. iPhone dan Android phones juga tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologinya, tetapi variasi pilihan apps-nya. So, what’s the big deal?

Local App IS the big deal! Kenapa begitu? Let’s see sudah berapa jumlah pengguna smartphone – khususnya ketiga merk yang sedang hip itu – di Indonesia (per 2011):

Ini belum termasuk smartphone merk lokal, cina, keluarga tablet dan multimedia player seperti iPod touch, Samsung WiFi, dll ya.

Nah..selain dari jumlah pengguna, kita juga lihat harga dari produk-produknya. iPhone masih tetap dengan image eksklusifnya, BlackBerry juga masih cukup pricey, tapi Android sudah mulai banyak yang harganya Rp. 1 jutaan, seperti Samsung Galaxy Mini, Samsung Galaxy Y, LG Optimus Me, dan para android-nya Nexian.

Perkiraan peningkatan permintaan pembuatan apps ini juga didukung fakta bahwa pengguna internet di Indonesia di tahun 2011 mencapai 39.100.000 orang (peringkat ke-8 di dunia). Jika mengacu pada data tersebut, maka pengguna internet mobile di Indonesia adalah sekitar 24.195.080 orang (Data Effective Measure).

Apps yang sekarang beredar, of course, didominisi oleh yang berbahasa Inggris. Namun dengan perubahan perilaku konsumen dan perangkat serta layanan yang mendukung, sudah dapat dipastikan bahwa pasar akan menuntut apps yang lebih localized, yang sesuai dengan kultur dan konteks lifestyle di Indonesia

Jadi, bisa lihat koneksinya? MORE USERS + MORE AFFORDABLE GADGETS = MORE LOCAL APPS

So, YES, I think Local Apps is the next big thing after social media. If you have a different point of view, please don’t hesitate to bombard me with your opinion, supported by hard facts.

Thanks for reading😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s