Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Apanya?


Teman-teman sekalian. Ingat tidak kalau hari ini adalah Hari Guru Nasional. Atau sudah sebagian besar lupa? Hehehe..Never mind. Di malam yang sudah terlalu larut untuk menulis ini, semoga saya bisa memberikan tulisan yang bermanfaat ya.

Kita dari kecil selalu ditanamkan tentang sosok guru sebagai pahlawan yang membuat kita pintar. Memberi ilmu tiada henti, walau – katanya – gaji tidak sebesar kalau bekerja sebagai karyawan kantoran. Itu waktu kita kecil. Nah, jika sekarang Anda sudah seumuran dengan saya (> 25 tahun), dengan segala hiruk pikuk sekitar dunia pendidikan yang Anda mungkin sudah pernah dengar atau sedang amati, apakah Anda mulai mempertanyakan jasa guru yang pernah diberikan kepada kita dahulu?

Kalau boleh jujur, saya amat sangat syukuri atas segala ilmu yang saya bisa dapatkan hingga saya boleh menjadi seseorang yang sekarang. Akan tetapi, melihat perkembangan – atau malah tidak berkembang sama sekali – dan gelagat sekolah-sekolah yang juga tidak hanya semakin bervariasi, namun juga semakin mahal, saya makin tergelitik dengan banyaknya pertanyaan di kepala saya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  • Berapa banyak guru yang merasa tanggung jawab mereka terhadap murid hanya dibatasi oleh gedung sekolah? Merasa bahwa di luar sekolah, murid-murid tersebut sudah tanggung jawab masing-masing orang tuanya.
  • Jika orang tuanya sendiri tidak cukup pintar untuk mendidik anaknya, apakah seorang guru akan melengos saja sambil berpikir bahwa itu bukan urusan mereka?
  • Apakah istilah ‘profesional’ dan ‘beretika’ itu cukup untuk membuat seorang guru biasa menjadi luar biasa? Tidakkah itu terdengar sangat ‘guru-oriented‘ daripada ‘murid-oriented?
  • Berapa banyak guru yang hampir tidak pernah punya waktu konsultasi pribadi bagi para muridnya pada saat mereka membutuhkan? Kesibukan seperti inikah yang dibanggakan?
  • Sekolah-sekolah memberikan beasiswa hanya kepada murid-murid yang terbukti mampu memenuhi standar, dengan dalih untuk memacu murid-murid lain yang ‘kurang’, untuk bisa memperbaiki nilai-nilai mereka di kelas. Apakah itu solusi bagi murid yang ‘kurang’ tersebut? Apakah mereka masih diberikan kesempatan untuk bisa mendapatkan beasiswa tapi guru-gurunya mengajar secara ‘adil & merata’ dan lupa bahwa masing-masing murid punya kemampuan belajar dan kepribadian yang berbeda?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan senada di kepala saya, namun saya rasa akan jadi sangat membosankan bagi teman-teman karena terlampau panjang.

Intinya, saya ingin mengajak teman-teman sekalian (syukur kalau di antara kalian ada yang guru) untuk berpikir dan berdiskusi lebih jauh tentang kata ‘guru’ dan tidak terbelenggu oleh bentuk-bentuk seperti gedung, status sosial, atau apapun itu yang membelenggu kedekatan antara guru dan murid.

Saya mau sharing tentang pengalaman saya sendiri dan saya akan sangat terbuka.

SMP saya termasuk SMP yang eksklusif dan populer, dimana uang sekolah tentu saja tidak murah dan buku yang dibawa bisa bikin badan susah tumbuh ke atas. Ilmu yang diberikan TOP! Gojlogan untuk menjadi individu yang fast learner & lulus EBTA/EBTANAS (sekarang UAS/UAN) juga tidak diragukan. Guru-gurunya pun mengajar dengan sangat baik. Pokoknya jaman saya SMP dulu itu hampir ga ada lah sekolah yang bisa lebih mewah. Semoga kegiatan ada di area sekolah, dengan fasilitas yang lengkap. OK, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa SMP saya memberikan saya gojlogan dalam hal kapasitas otak untuk belajar ilmu eksak, dll (ga tau deh mana yang otak kiri/kanan).

SMU saya, di Yogyakarta, termasuk sekolah yang amat sangat populer, tapi uang sekolah jauh di bawah uang sekolah saya di SMP. Bangunannya pun tidak semegah, secanggih, dan setinggi SMP saya. Boro-boro, wong langit-langit saja masih anyam-anyaman bambu dan ruang kelas tidak pakai pintu dan jendela. Pokoknya bentuk fisik kalah jauh lah dari SMP saya. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Hubungan murid dan guru itu luar biasa longgarnya. Kami belajar tentang rasa ‘hormat’ dengan format yang jauh berbeda yang kami tahu. Kami bisa tertawa terbahak-bahak sambil merangkul guru kami. Kami ditemani oleh guru kami untuk berkunjung ke rumah salah satu teman sekelas pada saat ada teman kami itu sedang bermasalah. Dan tanpa ba-bi-bu, guru kami segera mengerahkan segala macam bantuan yang bisa diberikan, termasuk berdebat dengan orang tua dari murid tersebut.

Saya tanya kepada teman-teman sekalian. Bisa lihat tidak perbedaannya? Cukup jelas tidak? Bagaimana perbedaan pengertian guru SMP dan SMU saya? Mana yang menurut kalian adalah benar-benar seorang guru? Dari cerita saya, saya yakin teman-teman sudah bisa melihat saya lebih berpihak kepada yang mana. Akan tetapi, saya tidak bersedia untuk membahas tentang pendapat pribadi saya. Saya minta teman-teman untuk sharing pengalaman kalian tentang ‘guru’ dan beri tahu saya apakah saya salah atau benar, menurut pandang kalian? Silahkan bantai saya😉

Sebagai penutup, saya ingin sekali menguti kultwit guru sosiologi SMU saya, Pak Sumar (@jsumardianta), tentang “Perangkap Beaya Tenggelam Pendidikan di Indonesia”. Semoga bisa menjadi pengetahuan dan bahan renungan.

#HariGuru1: Ada 4 tipe guru (mediocre, superior, good, & great teacher) yg berdampak destruktif maupun konstruktif bagi pendidikan di Ind.

#HariGuru2: “Sekolah di Indonesia didominasi guru mengajar bukan murid belajar. Soalnya, sebagian besar guru tipe medioker dan superior.”

#HariGuru3: “Masalah utama guru bkn sekadar kurikulum & stategi pengajaran.Bukan pula soal kesejahteraan melainkan spirit & keteladanan.”

#HariGuru4: Guru sdh banyak yg bersertifikat & beroleh tunjangan pendidik. Perubahan baru sebatas geser dr guru medioker jadi guru superior.

#HariGuru5: “Guru di Indonesia belum beranjak menjadi guru terpuji (good teacher) dan guru hebat (great teacher).”

#HariGuru6: “Pusat kegiatan mengajar-belajar guru medioker itu guru sendiri bukan murid. Kurikulum disajikan tanpa pengolahan. Pemelajaran tidak mempertimbangkan kecerdasan majemuk murid. Murid harus menyesuaikan dgn gaya mengajar guru. Bukan guru yang menyesuaikan metode mengajarnya dn gaya belajar murid. Guru medioker bercorak instruksional.Kerjanya hanya menyuapi murid spoon fiding). Murid dididik menjadi pecundang.”

#HariGuru7: “Guru superior, sepanjang hari, dari tahun ke tahun, kerjanya memperagakan otoritas & kewibawaan. Pusat kegiatan mengajar-belajar juga guru bukan murid. Guru tipe killer ini selalu minta diperhatikan bukan memperhatikan murid. Murid didik menjadi penakut & pengecut.”

#HariGuru8: “Guru superior cenderung minta dilayani. Ditakuti, bukan disegani murid, karena suka memaksakan selara. Guru temperamental yang selalu merasa paling benar. Bila nilai ujian jelek yg disalahkan muridnya. Ibarat ranting dan dahan lapuk guru superior hanya menunggu saat rontok.”

#HariGuru9: “Guru terpuji menjelaskan materi rumit dengan cara sederhana. To simplify complex things. Guru yang membuat murid ngeh & mudeng. Administrasi pengajarannya bagus. Pusat kegiatan mengajar-belajar masih tetap gurunya sendiri. Sayangnya guru tipe ini masih terperangkap materialisme kurikulum. Murid didik menjadi orang pintar.”

#HariGuru10: “Guru hebat kerjanya bukan sekadar mengajar melainkan sungguh mendidik. Guru hebat paham pekerjaan utamanya menginspirasi murid. Ia sadar punya satu mulut dan dua telinga. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik bukan membual terus di kelas sepanjang waktu. Guru hebat sedikit memberi instruksi.”

#HariGuru11: “Guru hebat Participant centered learning Pusat kegiatan mengajar-belajar murid bukan guru. Kurikulum diolah & disajikan sesuai kecerdasan majemuk murid. Guru hebat bisa mengidentifikasi gaya belajar murid di setiap kelas yang diampunya. dentifikasi gaya belajar murid membantu guru merancang pembelajaran kreatif & menyenangkan. Guru hebat mendidik murid menjadi manusia bermental driver & winner.”

#HariGuru12: “Guru hebat rendah hati. Gaya mengajarnya tdk usang. Metode mengajar model kemarin tak lagi digunakan buat mendidik murid masa kini. Tutorial teman sebaya (cooperative learning) salah satu bentuk PCL. Murid bergaya belajar cepat mengajar teman2 di kelasnya yang bergaya belajar normal dan lambat. Tutorial teman sebaya dilakukan guru hebat dengan memecah kelas menjadi kelompok2 kecil dipimpin murid bergaya belajar cepat. Tutorial teman sebaya  membuat pembelajaran di kelas menjadi hidup. Murid lebih suka diajar kawan2nya ketimbang gurunya karena tidak ada kesenjangan antargenerasi.”

(Kayanya Pak Sumar lupa kalau abis angka 12 itu kelanjutannya adalah 13 #dikeprukbakiak)

#HariGuru14: “Guru hebat memiliki keyakinan & komitmen kuat. Murid bisa melupakan apa-apa yg diajarkan maupun dilakukan gurunya. Tapi murid akan selalu mengingat & mengenang apa saja yang membuat hati mereka tersentuh.”

#HariGuru15: “Perubahan tidak menjamin keberhasilan tapi tidak ada keberhasilan yang bisa diraih tanpa perubahan. Tujuan guru bekerja menciptakan perubahan di sekolah. Perubahan tidak mungkin terjadi bila guru tidak memulainya dari diri sendiri terlebih dulu.”

#HariGuru16: “Guru medioker & superior yang cenderung destruktif disebut sunk cost. Beaya tenggelam (ongkos mahal) yang tidak bisa diambil kembali. Sekolah terperangkap sunk cost karena hanya bisa menyesali hilangnya beaya mahal akibat kesia-siaan guru yang membuat murid terbengkelai.”

#HariGuru17: “Kepala sekolah yg bukan tipe pengambil keputusan yg baik mudah terjebak sunk cost trap. Perangkap beaya mahal ini penyakit bagi pemimpin lemah dan pengambil keputusan buruk. Banyak kepala sekolah menghadapi guru bermasalah tapi sedikit yang berani membuat keputusan drastis yang membela dan peduli pada murid. Kepala sekolah yang keputusannya buruk bermental pecundang.”

#HariGuru18: “Guru medioker dan guru superior yang banyak merugikan murid bermental penumpang gelap yang sekedar cari aman dan menumpang hidup di sekolah.”

#HariGuru19: “Meminjam hukum Pareto, guru medioker dan superior jumlahnya 80%. Guru terpuji 15%. Guru hebat hanya 5%.”

(Lha ini abis no.19, eh no.19 lagi. Maklum ya, tweeps. Pak Sumar pasti sudah berumur juga secara saya terakhir ketemu beliau waktu kelas 3 SMU, sekitar tahun 2001 #dibalangpit)

#HariGuru19: “Masih jarang guru yang mau mengubah paradigma sehingga bermental driver (pengemudi), winner (bermental juara), good listener (pendengar yang baik). Kebanyakan guru bermental penumpang (passanger), pecundang loser), dan tukang bual (bad speaker).”

#HariGuru20: “Sedikit sekali guru yg memiliki tujuan hidup, bukan sekedar menumpang hidup, bukan sekedar mencari nafkah, dan bukan sekedar mencari kenyamanan. Guru yang berani mengatasi ketakutan, mengambil risiko, keluar dari zona nyaman, dan selalu menutut diri lebih. Guru yang berperilaku bikak bukan seenaknya sendiri. Guru yang dihargai karena menghargai muridnya. Guru bahagia yang mengantarkan kebahagiaan (delivering happiness) bagi para muridnya.”

#HariGuru21: sekian kulwit saya tentang “Perangkap Beaya Tenggelam Pendidikan” konsekaensi mayoritas guru medioker & superior.

P.S.: Pak Sumar ojo nesu yo, Pak. Mung arep sharing karo para kelonpencapir, Pak. Hwehehehe! Peace!

3 thoughts on “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Apanya?

  1. Apakah Widi yg ngajar di Gonzaga? Selasa sd Jumat minggu lalu aku nginap berempat dgn para guru JB di Gonz. Aku sdg menyipakan naskah buku “Guru Gokil Murid Unyu: Pendidik Hebat Zaman Lebay”. Buku ini dlm waktu dekat akan diterbitkan Bentang Pustaka. Semoga Widi berkenan apresiasi.
    Salam:
    Jsumardianta

    Like

    1. Waduh, Pak. Terima kasih saya dianggap guru, walau belum. Saya salah satu murid Bapak di JB, 3 sos 2, dan bukan veteran😀 Hehehe.. Tahun 2002 lulus, Pak.
      Wah saya mau tuh bukunya, Pak. Kalau sudah terbit, mohon saya dishare info ya, Pak. Ben bisa tuku. Terima kasih lho sudah mampir ke blog saya, Pak.

      Like

  2. Mencoba menelusuri topik ini ke belakang, selama 32 tahun sektor pendidikan diabaikan demi keberlangsungan orde penguasa waktu itu, sesudahnya wajahnya tidak berubah banyak.

    Alokasi dana APBN untuk ranah ini yang ditargetkan sebesar 20 persen tidak pelak “hanya dihabiskan” untuk kepentingan proyek pengadaan buku, lembar siswa beserta peralatan dan perlengkapan belajar mengajar lainnya.

    Ini terlihat jelas sekali lewat rencana implementasi kurikulum 2013, dimana pejabat berwenang tidak mengetahui seluk beluk kurikulum, uji publik tidak dilaksanakan secara terbuka, sementara fakta lain yang terungkap bahwa guru tidak pernah sekalipun diberikan pelatihan oleh pemerintah untuk melaksanakan kurikulum yang silih berganti selama puluhan tahun.

    Dan berkecimpung di industri pendidikan dan pelatihan selama lebih dari 14 tahun, kesejahteraan adalah faktor determinan atas kualitas guru dimanapun, khususnya di Indonesia. Mengapa? Karena dengan kompensasi minim, banyak sekali guru baik di sekolah swasta maupun negeri yang mengajar di banyak sekolah, bahkan memberikan les tambahan di akhir pekan hanya semata demi mencukupi kebutuhan hidupnya.

    Perjumpaan dengan guru yang bekerja seminggu sekitar 60 jam adalah hal umum. Dengan padatnya aktivitas pekerjaan dan minimnya pelatihan serta kurikulum yang “meragukan” dan “terlalu sering” berganti, apakah materi pelajaran sebagaimana disyaratkan oleh Diknas bisa disampaikan sepenuhnya secara optimal tanpa hanya mengejar menuntaskan target silabus semata? Pemahaman dan penguasaan siswa secara utuh tentunya jauh dari api.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s