Motor di Ibukota


Disclaimer: Postingan ini tidak mengeneralisir dan menyudutkan para pengendara motor di belahan dunia mana pun, especially Indonesia, especially Jakarta. Please be smart in commenting. Komentar yang menurut saya tidak layak untuk ditampilkan, tidak akan saya approve. Terima kasih.

Saya personally salut dan senang dengan makin banyaknya orang-orang dan komunitas-komunitas yang berani bikin social experiment seperti ini. Social media juga so far merupakan media yang tepat untuk konten-konten semacam ini menyebar mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan masyarakat.

Eh tapi mereka bikin beginian, janjian sama Polisi ga ya? Untuk masalah keamanan gitu. Kalau sampe digebugin, ada yang nolongin ga ya?
——
Sekarang ke pengendara motor. Dari SMU sampai dengan beberapa tahun masa kerja, saya adalah pengendara motor. Sampai sekarang pun sebetulnya lebih suka naik motor karena lebih murah, ringkas, dan cepat. Pernah sih ngelanggar, tapi saya selalu berusaha menaati peraturan lalu lintas karena menurut saya ga mati juga kalo ga nurutin.

Tanpa bermaksud menyebarkan kebencian, tapi memang kenyataannya bahwa tata krama kebanyakan pengendara motor di Jakarta (dengar-dengar di kota lain juga) sudah memprihatinkan. ((BUKAN BERARTI YANG MOBIL GA YA. INI KONTEKSNYA MBAHAS MOTOR)). Kira-kira foto-foto di bawah ini adalah pemandangan yang sering saya lihat di jalanan Jakarta:

Sumber: Forum.fibizportal.com
Sumber: Forum.fibizportal.com
Sumber: Ketangkap.com
Sumber: Ketangkap.com
Sumber: Setiawantara.wordpress.com
Sumber: Setiawantara.wordpress.com
Sumber: Kaskus.co.id
Sumber: Kaskus.co.id

Menurut teman-teman, apa dong yang harus kita lakukan agar – setidaknya – Jakarta bisa menjadi kota yang lebih baik dalam tata krama berlalu lintas?

Buat komentar yang menurut saya paling OK, saya punya dua tiket nonton XXI lho untuk dibagi. Tapi, mohon maaf, cuma di daerah Jakarta only.

For this one, I'm Not Even Mad. This Is AMAZING! :-D
For this one, I’m Not Even Mad. This Is AMAZING!😀

3 thoughts on “Motor di Ibukota

  1. kalo menurut gw sih wid, emang kebiasaan orangnya aja yg ga disiplin dan ga punya empati. mau tuh orang2 dikasih mobil juga sikapnya bakal sama aja. soalnya in my opinion mereka itu:
    – gak mau ngantri. this is me me me generation we’re talking about.
    – nyalip sembarangan motong dari kiri dan ga pake sejn. pernah perhatiin iklan motor di indo? motornya kencangg, bisa nyalip2 broo! iklan oli motor juga slogannya tarikannya ganas brooo.. buat apa coba 😑
    – suka ngambil hak orang lain. trotoar abis, zebra cross abis , ngelawan arah alasannya macet dll
    – terpaksa naik motor soalnya blom ada transport yg lebih baik (public trans, mobil, jalan kaki, dll)
    solusinya? ya.. polisinya harus bener dulu sih. bikin sim ga sembarangan. kalo bisa tiered license. naik motor itu berbahaya lho. itu masalah lalulintas dan safety riding. kalo masalah mental suka nyalip antrian mah mbuh deh 😗

    Like

  2. Melihat postingan ini saya jadi ingat kembali akan 2 hal kontroversial di Indonesia yang terbenam di pikiran masing-masing manusianya. Dua hal tersebut adalah “Rasa Malas” dan “Daya Juang”

    Manusia Indonesia kita secara tidak sadar memiliki 2 hal ini didalam benak mereka yang selalu menjadi acuan dalam menghadapi hari-harinya.

    “Malas”
    Bukan berarti tidak ingin melakukan aktifitas, tetapi terlalu lelah hati untuk melakukan aktifitas. Masyarakat kita seperti kurang memiliki daya juang yang tinggi dalam menghadapi aktivitas yang sama setiap harinya. Padahal, kita tahu bahwa untuk mencapai sesuatu yang kita tuju diperlukan kerja keras dalam setiap hari yang kita tempuh.

    “Daya Juang”
    Manusia indonesia kita bisa dibilang tetap memiliki daya juang meski lelah hati dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari. Dari keseharian yang sudah membuat malas untuk dijalani, selalu terbesit dalam benak dimana ada kebutuhan keluarga, kebutuhan-kebutuhan lain yang memotivasi diri untuk meningkatkan daya juangnya dalam melalui hari itu.

    Balik ke artikel diatas, kedua hal yang saya jelaskan bisa langsung diimplementasikan sebagai penyebab terjadinya sebagian besar foto-foto diatas.

    Secara positif saya hanya mau mengajak para pembaca untuk memaklumi hal-hal yang terjadi di negara kita sendiri. Dimana, jika ada hal-hal di negara kita terlihat salah maka para pembaca dapat berkaca kepada diri sendiri terlebih dahulu. Satu orang yang mampu berubah menjadi lebih baik, cukup mampu merubah beberapa orang didekatnya menjadi lebih baik😉

    Like

  3. the problem is ignorance.

    seperti yang gue tulis di blog gue, masalahnya emang ada yang ga tau dan ga mau tau, misalnya, bahwa menyalip kendaraan di belokan itu berbahaya, tapi tiap hari gue melihat seperti itu. Dan terobos lampu merah, etc etc. Sementara itu, nanti nyalahin polisi atau pemerintah kalau keadaan lalu lintas kacau, tapi marah-marah juga kalau aturannya jadi represif (masih inget kan, cerita soal pengendara yang ditilang karena masuk jalur busway, berkomentar ’tilangnya tidak berpihak pada rakyat kecil’).

    makanya gue rant pagi2 soal lalu lintas karena harusnya kan orang Indonesia yang mayoritas Islam dan lagi puasa itu, belajar menahan diri… tapi nggak tuh. naluri pengen cepet2 dan bodo amat sama peraturan melebihi tanggung jawab terhadap hukum. karena ‘ya gak papa lah dikit ini’ atau ‘gak ada polisi deh, gpp’. padahal perilaku buruk yang dilihat orang lain itu yang membuat seolah-olah menerobos jalan satu arah itu nggak masalah.

    We are the problem, not the government. Dan tiap hari gue berusaha menjadi pengemudi yang bertanggung jawab.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s