Tentang Kebaikan


kindness-quote-mark-twain

Apakah teman pernah mengharapkan sebuah kebaikan dilakukan terhadap kita, seperti kita telah berbuat baik kepada orang lain? Jika belum, apakah pernah menyalahkan Tuhan akan tidak berbalasnya kebaikan yang telah kita berikan kepada orang lain?

Saya punya secuil pengalaman pribadi, yang untungnya sempat saya renungkan dan akhirnya membuahkan pencerahan.

Berangkat ke dan pulang dari kantor menggunakan transportasi umum tidak selalu seenak yang kita harapkan. Kadang kita dapat duduk, kadang yang duduk hanya pantat sebelah, atau kadang kita harus berdiri beberapa waktu karena bus atau keretanya sudah penuh. Lalu di pemberhentian selanjutnya dan selanjutnya, tidak jarang ada orang tua yang naik dan celingak-celinguk mencari tempat duduk.

Apa yang muda-mudi seperti kita selayaknya harus lakukan? Tentu harus memberikan tempat duduknya kepada orang tua. Lelah? Mereka juga lelah, tapi mungkin juga tidak. Tapi norma yang kita pelajari bahwa ekspresi tersebut merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada orang tua.

Suatu akhir pekan saya dan istri berkunjung ke rumah orang tua saya. Kebetulan Ibu juga termasuk seorang ROKER (Rombongan Kereta) dan malam itu beliau bercerita semangat sekali, “Eh! Ternyata anak-anak muda sekarang tidak secuek itu ya. Kemarin-kemarin, entah kenapa, kereta penuh terus. Tapi Mama selalu saja ditawari tempat duduk sama anak-anak muda itu. Seneng Mama! Mama puji mereka, ga peduli itu di depan orang banyak.” Kami pun turut senang dan dalam hati mendoakan anak-anak muda itu, di tengah persepsi orang-orang bahwa generasi muda sekarang kurang peka dan egois.

Saat jalan pulang, saya nyeletuk ke istri, “Tuhan itu misterius ya.” Istri bertanya, “Lho? Kok kamu bisa ngomong gitu?”

Dari kejadian kecil itu, ada beberapa pencerahan yang saya dapatkan:

1. Jangan perhitungan sama Tuhan. Jika ingin berbuat baik, berbuat baiklah tanpa harus memikirkan kapan, di mana, dan oleh siapa kamu akan kembali menerima kebaikan itu;

2. Perbuatan baik yang kamu lakukan, bisa saja dibalaskan tidak langsung ke kamu, tetapi ke orang-orang terdekatmu, terjauhmu, bahkan mungkin kepada orang yang kamu benci;

3. Maaf tulisan ini panjang banget tapi ya gimana dong. Sayang kalau saya simpen sendiri pencerahan ini.

Thanks for reading, friends! Silahkan jika ada yang mau menanggapi, apalagi memberikan kritik.

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s