Serunya Nginap di Alila Jakarta

Biasanya kita menginap di hotel pada saat kita ke luar kota. Padahal tidak harus gitu juga¬†lho. Saya dan istri KTP Jakarta, tapi terkadang kami juga suka menginap di hotel di Jakarta. Hayooo..jangan mikir jorok ya ūüėÄ Sebetulnya sih kami sekedar ingin mencari suasana yang berbeda dan sebisa mungkin kami mencari hotel yang daerah sekitarnya bisa dijelajahi.

Bulan lalu kami mendapatkan kesempatan untuk menginap di Hotel Alila, Jakarta. Letak Hotel Alila itu tepatnya di Jalan Pecenongan Kav. 7-17, daerah Gambir. Familiar tidak dengan Jalan Pecenongan? Yup! Wisata kuliner!

Sesampainya saya dan istri di Hotel Alila, serta mengurus ini itu dengan Mba’ resepsionis yang super ramah, inilah pemandangan begitu masuk ke kamar kami.

Mari kita lihat dalamnya.
Mari kita lihat dalamnya.
Wah! Kamarnya luas ih!
Wah! Kamarnya luas ih!
Ini lho tempat *ehem*..tidur.
Ini lho tempat *ehem*..tidur.
Kamar mandinya adem dan cozy.
Kamar mandinya adem dan cozy.
Toiletries-nya lengkap!
Toiletries-nya lengkap!
Nah saya suka banget nih pancuran besar begini. Mantap mandinya!
Nah saya suka banget nih pancuran besar begini. Mantap mandinya!

Setelah menikmati kamar Alila yang sejuk dan¬†comfy, tiba saatnya MAKAN SIANG! Makan di Alila kali ini terasa spesial, karena akan ada demo masak dari¬†Chef Alex Ensor, kebanggaan Alila Jakarta. Bisa tebak tidak menunya apa? “Fresh Squid Ink Pasta”!

Chef Alex Ensor in action! Just looking at him cooking, I got super hungry!
Chef Alex Ensor in action! Just looking at him cooking, I got super hungry!

YAK BETUL! Pastanya dibuat menggunakan tinta cumi, makanya warnanya hitam. Rasanya? ENAK LUAR BIASAAA!! *dari mulut keluar Naga a la ‘Yoichi Anak Cita Rasa’.

SUPER DELICIOUS Fresh Squid Ink Pasta!!!
SUPER DELICIOUS Fresh Squid Ink Pasta!!!

Setelah kenyang makan dan berbincang dengan Chef Alex Ensor, istri ingin coba layanan Spa Alila. Sayang sekali kami telat, jadi Spa-nya udah fully booked sampai beberapa hari ke depan. Yang ada hanyalah Massage. Tidak apa, tiada Spa, Massage pun jadi. Hehehe.

Istri sedang tanya-tanya berbagai macam layanan perawatan di Hotel Alila Jakarta.
Istri sedang tanya-tanya berbagai macam layanan perawatan di Hotel Alila Jakarta.

TIPS: Layanan Spa dan Massage Alila Jakarta sangat diminati, tidak hanya oleh penghuni hotel, tetapi juga umum. Sebaiknya book beberapa hari sebelumnya.

Saat istri menikmati dipijat di Spa Alila, saya kembali ke kamar dan nonton TV. Yah..namanya juga istirahat di akhir pekan (ngeles karena sebenarnya udah tua).

Kembali saat yang dinantikan datang lagi. MAKAN MALAM! Maklum ya..anaknya doyan makan banget!

SUPER TASTY Lamb Chop!
SUPER TASTY Lamb Chop!

Saya diinformasikan bahwa salah satu makanan favorit di restoran Buzz di Alila adalah Lamb Chop. Jelas banget saya langsung gayung bersambut. 1000% benar! Lamb Chop-nya luar biasa enak! Tidur nyenyak deh malam ini.

Selesai makan, saya menyusuri daerah Pecenongan, yang terkenal dengan kulinernya yang beraneka ragam. Saya bahas di blogpost saya yang lain ya.

Setelah lelah berjalan-jalan, kami kembali ke hotel untuk istirahat.

ZZZZZZ….

Keesokan harinya kami harus check-out pagi, karena masih ada acara lainnya. Sebelum pulang dan sambil urus check-out, kami tak lupa window shoppping ke toko suvenir Hotel Alila.

Bu. Ga beli, Bu? Cuma lihat-lihat saja?
Bu. Ga beli, Bu? Cuma lihat-lihat saja?

Seru deh menghabiskan akhir pekan di Hotel Alila Jakarta! Para stafnya super ramah, makanannya super enak, dan kamarnya pun super cozy! Sepertinya kami akan balik lagi. Hehehehe.

Thank you, Alila Jakarta! Thank you juga kepada teman-teman yang sudah baca!

Thank you, Alila Jakarta! See you again next time!
Thank you, Alila Jakarta! See you again next time!

Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibukota. Cari Ibu Tiri Lain?

image

SUMMARY:

Jakarta memang menawarkan fasilitas terlengkap di Indonesia. Tapi lihat macetnya? Perilaku para pengendaranya? Kapan mau pindah dari Jakarta?

—-

Ini adalah pertama kalinya saya nge-post di atas bis umum, on my way to office. Hehehe.. Ya daripada suntuk parah ngeliatin mobil-mobil berjejeran tak bergerak di tol JORR.

Nah. Macet. I know that you might already get bored with it, tapi ini memang masalah Jakarta yang paling akut. Tapi di sini saya ga akan ngomongin tentang bagaimana sebaiknya pemerintah mengurangi kemacetan di Jakarta. Google it and you will find tons of articles talking about the same topic, most probably, over & over again.

I wanna talk about you..

Saya dulu sempat sangat keukeuh untuk tetap tinggal di Jakarta sampai mati. Namun, perkembangan tak terkontrol jauh lebih maju daripada usaha siapa pun untuk memperbaikinya. Kepikiran sih untuk pindah ke luar kota. Yang lebih less traffic, of course.

Buah pikiran saya adalah: sungguh sayang sekali waktu hidup dan berharga kita habis 80% di jalanan Jakarta yang penuh nan semrawut, dimana mungkin di¬†‚Äėalternate world‚Äô¬†justru mungkin tidak pernah habis waktu untuk keluarga, teman, bisnis, rekreasi, berkegiatan sosial,¬†you name it.

Bagaima dengan teman-teman? Punya pikiran sama dengan saya? Masih betah tinggal di Jakarta? Share dong.

Jelajah Kota Toea: “Imlek di Pecinan” (22 Januari 2012)

Di hari Minggu yang cerah, pada tanggal 22 Januari 2012, saya beserta Pillar, Ibu saya, dan adik saya berpartisipasi dalam acara Jelajah Kota Toea yang diselenggarakan oleh Komunitas Jelajah Budaya, dengan tema ‘Imlek di Pecinan’. Dress Code yang diminta oleh panitia acara adalah ‘merah’, untuk menyambut Hari Raya Imlek, yang akan dirayakan oleh masyarakat Tiong Hoa di Jakarta pada hari ini, 23 Januari 2012. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Keliling daerah ‘Pintu Kecil’, dengan arsitektir rumah Cina pada jaman Batavia.
  2. Melihat rumah keluarga Sow & Pa Te Koan.
  3. Keliling Klenteng Toasebio.
  4. Keliling Gereja Maria de Fatima.
  5. Melihat kegiatan sembahyang di Klenteng Jin de Yuan.

Untuk memberikan sedikit gambaran, saya sertakan scan dari sinopsis perjalanan kilas balik ini.

Image

Sedikit tambahan preambule, sebatas pengetahuan saya:

“Kehadiran orang-orang Cina di Batavia adalah berkat jasa J.P.Coen, sebagai upaya untuk menggerakkan roda ekonomi di Batavia. J.P.Coen secara inisiatif mengangkat Kapitan Cina pertama di Batavia yang diberi tanggung jawab untuk merekrut dan mengelola orang-orang Cina di Batavia, untuk bekerja. Dengan semakin masifnya pertumbuhan orang-orang Cina di Batavia, yang tidak terbendung, memberi rasa takut kepada Belanda bahwa dengan jumlah orang Cina yang terlalu banyak, dampak pengambilalihan (worst case scenario; pemberontakan) bisa saja terjadi. Pada tahun 1740an terjadi pembantaian masyarakat Cina besar-besaran di Batavia. Belanda belajar dari kesalahan, dan secara perlahan kembali membiarkan masyarakat Cina bertumbuh dan bekerja, namun dengan pengawasan yang sangat ketat.”

Situs-situs rumah Cina bertingkat dua di Batavia menunjukkan status bangsawan yang diberikan oleh Belanda, kepada keluarga-keluarga Cina terpilih.

Saya melakukan sedikit dokumentasi di acara ini, yang Anda bisa lihat di sini

Mohon maaf atas pengambilan gambar yang mungkin tidak terlalu layak, karena kebetulan saya tidak berbakan fotografi. Namun, semoga apa yang saya sajikan cukup memberikan gambaran yang jelas atas perjalanan kilas balik yang sangat menarik ini.

Selamat menikmati ūüôā

Jangan lupa drop comment Anda juga ya.