Instagram Ganggu Liburan?

http://www.wsj.com/articles/when-instagram-culture-ruins-a-vacation-1444761342?reflink=line

Kalo buat orang Indonesia, ga cuma IG, tapi Path juga.
———————-
Di jaman berbagi seperti sekarang ini memang susah untuk tidak mengeluarkan smartphone dan menjepret pemandangan dan momen, yang kita anggap berarti buat kita. Ga ada salahnya sih, IMHO. Tapi di beberapa kali kesempatan, gw pernah memutuskan untuk tidak mau buang waktu merogoh smartphone di kantong & lebih memilih untuk terdiam tidak berkedip membiarkan mata mencerna keindahan serta menyimpannya di kepala dan hati saja. Ga nyesel sama sekali ga ambil foto.

Ingat adegan Walter Mitty ketemu Sean O’Connell waktu Sean lagi hunting “the ghost cat”? Ya momen seperti itu lah.

Kalian gimana?

View on Path

Apakah Bayi Anda Aman dari Social Media?

Terinspirasi oleh blog milik Ryan McLaughlin berjudul Removing My Children From The Internet, saya memiliki rasa penasaran yang cukup besar akan pendapat teman-teman terdekat saya mengenai posting foto-foto bayi (atau toddler) mereka di berbagai macam kanal situs jejaring sosial. Jadi, yang saya lakukan adalah langsung mengadakan FGD (Forum Group Discussion) kecil-kecilan melalui Path untuk mengetahui pendapat-pendipit mereka.

Beberapa pertanyaan yang saya ‘bombardir’ melalui fitur quote di Path adalah sebagai berikut:

  1. Sebahagia atau sebangga-banggnya kita akan bayi kita, apakah kita senantiasa memotret mereka dan men-twitpic, posting foto mereka di FB/Path/Instagram?
  2. Serajin itu kah kita merekam segala tingkah laku menggemaskan bayi kita dan mengunggahnya ke Youtube/Instagram/Vine?
  3. Pernahkah kita – (calon) orang tua) – berpikir bahwa mungkin bayi-bayi kita tidak ingin rekaman masa kecil mereka terpapar di internet, dimana setiap individu selalu memiliki kemungkinan untuk mengakses foto-foto dan/atau rekaman-rekaman video tersebut?
  4. Jika kita yang menjadi bayi kita, apa kita mau untuk diperlakukan dengan cara yang sama?

Reaksi yang saya dapatkan dari teman-teman saya lumayan variatif. Ada yang setuju untuk tidak memposting foto-foto anak-anak mereka, ada yang merasa tersadarkan dan – kelihatannya – akan mengurangi kegiatan posting foto anak, dan ada juga yang berpendapat bahwa ‘toh’ anak-anak kecil jaman sekarang sudah dengan sukarela menunjukkan foto masa bayi mereka kepada teman-temannya.

Tidak ada jawaban yang salah dan tidak ada jawaban yang benar. Justru menurut saya yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa lebih cermat dalam memilih kanal social media, dalam berbagi informasi. Isu social media selalu sama, yaitu ‘privacy’. Dan dengan makin menjamurnya pilihan-pilihan kanal social media – dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing – menjadikan privasi sebagai sebuah currency atau mata uang. Tentu saja bukan uang beneran ya, tapi lebih kepada “tingkat privasi yang bagaimana, di kanal social media yang mana?”. Karena, IMHO, pada saat bertambah besar, anak kita kelak akan memiliki hak untuk mengatur privasi mereka sendiri. Dan, mungkin, sebagai orang tua, kita bisa mulai memikirkan hal ini sejak dini; memberikan kesempatan anak kita untuk dapat mengatur kehidupan masa lalunya, untuk masa depan mereka.

Tambahan dari saya – ini lebih ke masalah teknis sih – dengan bertambah pesatnya kemajuan teknologi dan excitement masyarakat dunia akan hal tersebut, hukum 2.0, norma 2.0, tata krama 2.0, etika 2.0 belum bisa keep up. Dalam memaparkan identitas dan informasi kita di internet, hendaknya kita juga harus pintar. Kita tidak mau begitu saja memberikan informasi apa pun tentang kita ke orang asing. We never know what’s going to happen to us, our family, our children.

Thanks a lot untuk teman-teman kece saya yang sudah bersumbangsih pendapat di Path ya. You know who you are 😉

It’s ‘Me 2.0!’

Anda sempat tahu fenomena seorang anak remaja bernama Marsha di Twitter? Dia sempat duduk di urutan teratas Trending Topics lho. What is so special about her? Well..specially BAD. Jika Anda ketinggalan beritanya, Anda bisa kunjungi dua situs ini (http://bit.ly/cNKeU6) (http://bit.ly/9qzqrz)

Seperti yang kita ketahui, internet telah menyuguhkan cara mudah berkomunikasi – baik dengan keluarga, orang terdekat, teman, bahkan dengan orang asing – diawali dengan fenomena mIRC, lalu Forum online, dan seterusnya. Bagi orang-orang yang belum sempat melek internet pada saat itu, Facebook dan Twitter (dua situs Social Media terbesar di dunia saat ini) menjadi celah populer untuk masyarakat dunia mengenal dan menggunakan berbagai macam kegiatan dengan mengatas namakan ‘komunikasi’.

Di dunia maya, orang tidak perlu takut untuk berpendapat, baik secara halus maupun ekstrim, karena toh tidak face-to-face. Tidak takut dipukul atau pun diludahi. Tapi sadarkah Anda bahwa dalam berkomunikasi di dunia maya you are what you write/type/tweet? Itu termasuk kegiatan Personal Branding (http://en.wikipedia.org/wiki/Personal_branding) Anda yang Anda sedang lakukan terhadap orang-orang di sekitar Anda, termasuk orang-orang yang belum Anda kenal. It is – officially – Me 2.0! Istilah ini saya pinjam dari buku karangan Dan Schawbel yang berjudul ‘Me 2.0: Build a Powerful Brand to Achieve Career Success’ http://bit.ly/2xVgFW

Ya! Apa yang Anda tuangkan di dalam profil atau akun Anda di situs Social Media merupakan portfolio Anda. Kalau di KasKus, sistem reward/punish-nya berupa pemberian ‘cendol ijo’ (Anda berlaku baik) atau ‘ bata merah’ (Anda telah menyinggung seseorang).

Apa dampaknya bagi Anda? Mudah. Jika Anda berperilaku baik di dunia maya, niscaya tidak akan terjadi apa-apa. Namun, apabila Anda berlaku sebaliknya, efeknya belum tentu hanya terhadap diri Anda sendiri. Masih ingat Evan Brimob (http://bit.ly/2pIoFe) dengan status kontroversialnya di Facebook? Tidak hanya dia yang dicaci maki oleh pengguna Facebook lain, tapi berawal dari posting statusnya yang kurang menyenangkan, Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) ikut merasakan getahnya (http://bit.ly/adhp1d).

Hanya karena tweet dan/atau status update Anda, Anda juga bisa kehilangan pekerjaan! Mengerikan bukan?

Apa yang bisa kita petik dari sini? Bermain-main di dunia maya bukan berarti Anda dapat berbuat seenaknya. Selayaknya hidup bersosialisasi dengan orang lain, kita juga harus mampu dan mau menjaga perilaku serta budi pekerti kita di dunia maya. Salah-salah kasih komen, bisa-bisa akun Twitter Anda di-suspend seperti Marsha atau Anda dipaksa untuk minta maaf kepada khalayak Facebook seperti Evan Brimob. Dan, jangan salah! Efeknya bisa terasa di dunia nyata Anda sendiri 😉

Be smart and be wise. Tweetmu/Statusmu adalah (juga) harimaumu. Mari kita ber-Internet Sehat.